Skip to content

Melihat setan

20 Juli 2012

“Temenan koen?” Tanyaku gak percaya

“Iyo!” Jawabnya “Aku kepingin ketemu setan, kepingin ndelok setan!” Jawabnya menegaskan dengan mata berapi-api.

“Wes, ancene awakmu gendheng.”

“Gelem melok tah ora?!”

Memang ada rasa gentar dalam hatiku. Memang sebenarnya aku takut kalau harus ketemu dengan yang begitu-begituan. Terus terang saja, aku tidak berani. Melihat setan? benar-benar sebuah permintaan yang tidak bisa masuk di akal. Untuk menutupi kegelisahanku itu maka aku sedikit berakrobat.

“Koen karo aku kan gak duwe ngelmu, ngkok lek onok opo-opo gak iso lapo-lapo. Gak ono sing nulungi.”

“trus karepmu yok opo?”

“Ayo ngadep nang Gus Toha, mbok menowo Gus Toha gelem ngancani. Gus Toha kan sakti, anak kyai.”

“Ayo wes, berangkat!”

Dua orang remaja seumuran SMP bergegas menuju ndalem, rumah kyai Agus Mahfud Yusuf tempat mereka berdua mengaji. Pondok Hidayatul Mubtadi’in, tasikmadu, di pinggiran utara kota Malang.
Yang satu bertubuh tegap, pandangannya tajam. Salah satu remaja kampung Tasikmadu yang juga mondok di pesantren ini. Namanya Farhan, orang-orang kampung lebih mudah memanggilnya Parkan. Selepas sekolah SD, Parkan langsung berpindah tidur ke salah satu bilik yang ada di dalam pondok tersebut. Yang satu bertubuh kurus, berambut tipis dan menyala ketika terkena sinar matahari, mirip rambut jagung. Berasal dari kampung sebelah, selalu mengikuti kegiatan pelajaran pondok pada sore hari. Dia ini dibilang mondok juga bukan, karena selalu pulang ke rumah setelah selesai mengaji. Ya, aku selalu mengayuh sepeda setiap sore ke aula tempat pengajaran sambil bawa telinga dan buku catatan. Kalau ada hal yang penting akan dicatat dalam buku ngaji tersebut. Pulangnya sekitar jam 9 malam, mengayuh sepeda lagi.

Entah karena kebetulan atau bagaimana Parkan dan aku bisa langsung ketemu dengan Gus Toha. Biasannya kalau ada santri atau tamu yang ingin bertemu dengan orang-orang ndalem harus menunggu dulu di depan atau di ruang keluarga karena sang kyai ataupun anak beliau sedang tidak di rumah. Entah mengajar atau sedang kunjungan ke pondok yang lain.
Beberapa ada yang berkeyakinan bahwa jika tidak ketemu-ketemu juga dengan sang kyai, maka ada niatan yang kurang pas ketika sowan ke rumah sang kyai. Ada maksud-maksud yang tidak baik di hati ketika sowan. Ada perbuatan atau dosa yang masih dilakukannya. Oleh karena itu harus membersihkan hati dulu dan perbuatan dulu. Ah, masyarakat punya kontrol diri yang efektif dengan budaya sowan ini.

Gus Toha masih muda, umurnya baru 25 tahun, namun keluasan ilmunya yang beliau timba dari ayah beliau memancar dari waajahnya. Wajar saja semua warga menghormati beliau sebagai salah satu tokoh masyarakat. Ada santri yang sudah bertahun-tahun mondok mengatakan bahwa Gus Toha adalah orang sakti, punya ilmu gaib dan sebagainya. Entah itu hanya rumor atau bagaimana, tidak ada bukti, saksi-saksi pun bungkam tentang itu. Aku dan Parkan pun belum pernah menemukan beliau menggunakan ilmu gaibnya untuk keperluan tertentu. Nah, kali ini mungkin kesempatan kami untuk melihat kesaktian Gus Toha.

“Serius?!” Mata Gus Toha memandang kami berdua. Aku sendiri merasa tidak ada keyakinan. Sedangkan Parkan dengan berapi-api mengiyakan. Terpaksa aku mengikuti apa yang dikatakan Parkan.

“Melihat setan itu tidak mudah, syaratnya sangat berat. Aku yakin kalian tidak akan mampu melakukan syaratnya” Jawab Gus Toha.

Jawaban itu, seakan meremehkan niat Parkan yang begitu sungguh-sungguh. Sebagai remaja yang sedang dalam proses pencarian diri selalu mencari jawaban sendiri atas pertanyaan yang ada, tidak perduli dengan syarat yang diajukan. Hati Parkan seperti tertantang, ingin menunjukkan bahwa niatnya itu sungguh-sungguh ingin melihat setan, tidak tergoyahkam oleh apapun.

“Baik kalau begitu kemauan kalian” Jawab Gus Toha melanjutkan “Ada syaratnya.”

“Apa syaratnya gus?”

“Besok hari kamis, kalian berdua harus berpuasa senin-kamis. Selain itu kalian harus ikut saya sepanjang hari. Dari pagi hingga selesai pengajian malam. Melakukan apapun yang aku suruh, kalau menolak berarti kalian tidak akan melihat setan. Kalau puasa kalian batal, berarti gagal. Kalau mundur berarti kalian gagal. Sanggup?”

“Kalau hanya itu saya sanggup Gus.” Jawab Parkan

“Baik kalau begitu, besok setelah sahur kutunggu di masjid.”

Keesokan harinya, Gus Toha sudah berada di dalam masjid, sedang berdzikir. Hari ini, kamis, dalam keadaan berpuasa akan mengikuti ingin bertemu dengan setan.
Setelah turun sholat subuh, matahari belum terbit. Pagi-pagi sekali Gus Toha memerintahkan Parkan dan aku untuk turun ke ladang. Gus Toha pun ikut turun ke ladang membagi tugas. Gus Toha mencari kayu bakar, Parkan dan aku harus mencari rumput untuk sapi dan kambing di ndalem. Ladang yang dituju cukup jauh, makanya harus berangkat pagi-pagi sekali agar tidak kepanasan di jalan.

Kami diajak ke sebuah ladang. Matahari sudah terlihat tinggi dan sudah mulai panas. Gus Toha memberi tahu bahwa beliau juga puasa, namun pekerjaan harian seperti ini harus dilakukan setiap hari. Mencari kayu bakar untuk pawon dan mencari rumput untuk sapi di kandangnya. Gus Toha dengan sigap masuk ke rimbunan ladang mencari kayu bakar. Aku dan Parkan diberi tugas mencari rumput. Matahari sudah tinggi ketika keranjang rumput sudah penuh, sungguh melelahkan sekali. Parkan dan aku selalu diingatkan oleh Gus Toha, bahwa sekarang sedang melakukan puasa, jangan sampai batal. Meskipun haus harus tetap ditahan. Kalau gagal, kalian tidak akan ketemu dengan setan.

Gus Toha berkeringat banyak karena memikul kayu bakar, Parkan juga berkeringat banyak karena rumput yang dipikulnya. Aku masih lumayan berkeringat karena berjalan jauh membawakan peralatan-peralatan kedua orang tersebut. Perjalan pulang dirasa begitu berat. Akhirnya sampai juga di ndalem, bertepatan dengan adzan dhuhur.

Selesai sholat, kami berdua didatangi lagi oleh Gus Toha.

“Masih mau melihat setan?” tanya Gus Toha

“Oo masih!” jawab Parkan tegas

“Baik, sebentar lagi ikut saya ke pasar blimbing. Kulakan.”

“Baik Gus.”

Pasar Blimbing ditempuh dengan naik sepeda. Lelah dari tubuh terasa belum hilang namun masih harus kulakan di pasar. Setelah memarkir sepeda, aku dan Parkan mengikuti Gus Toha kemanapun beliau pergi. Tiba di belakang pasar, terlihat kerumunan orang bersorak sorai. Mengerumuni sesuatu yang samar-samar. Melihat kecurigaanku dan Parkan dengan kerumunan itu, Gus Toha buka suara

“Kalian kalau mau lihat, lihat saja sana. Saya masih harus bertransaksi dengan toko ini. Mungkin butuh waktu yang cukup lama.”

“Baik Gus”

Ternyata sebuah lingkaran adu ayam, sorak sorai itu adalah untuk jagoan masing-masing. Lembaran-lembaran uang berpindah tangan. Ada juga dadu yang dilempar kepada sebuah angka-angka. Aku tidak mengerti cara adu ayam atau bermainnya dadu. Yang pasti kenapa mereka begitu bodohnya membayar nasib dengan sejumlah uang hanya untuk berangan-angan mendapatkan uang yang berlipat. Dan itu dilakukan dengan suka ria, meskipun satu per satu peserta keluar dari kerumunan dengan wajah yang murung, kehabisan uang.
Gunjingan antar peserta yang menuduh ada ilmu hitam diantara pemilik adu ayam terdengar lirih. Tercium aroma minuman keras, ternyata sebagian orang minum minuman keras.
Dalam kondisi berpuasa, hati jadi peka. Bahwa mereka itu sedang melakukan judi, mabuk dan menyiksa binatang, itu dilarang. Bahkan secara akal sehat, mereka itu kok tidak berpikir hari depan dengan apa yang dilakukannya sekarang. Aku seperti tidak betah berada di dalam orang-orang seperti ini, begitu juga dengan Parkan. Aku dan Parkan memutuskan kembali ke tempat Gus Toha kulakan.
Matahari sudah condong, sebentar lagi Ashar, aku mengajak Gus Toha beristirahat sholat. Barang kulakan sudah siap untuk dibawa pulang. Tidak sengaja melintas seorang wanita dengan pakaian yang minim. Kakinya terlihat jelas, bajunya juga terbuka sekali. Tidak pantas berada di tengah pasar. Mata ini melihat, tapi hati menyangkal bahwa melihat wanita seperti itu dilarang. Mata ini benar-benar diingatkan oleh hati, benar-benar dikontrol oleh hati agar tidak sembarangan. Puasa ini benar-benar membersihkan hati sehingga kata-kata hati lebih jelas terdengar.

——-

Menjelang maghrib, sudah disediakan berbagai makanan untuk kami berdua. Banyak. Aku dan Parkan diijinkan makan di ndalem. Kok rasanya tidak perlu makan banyak-banyak, karena kapasitas perut itu hanya segitu-gitu saja. Dan lagi, nafsu perut itu hanya sementara, hanya keinginan sementara. Setelah perut diisi dengan sedikit makanan, nafsu itu akan hilang dengan sendirinya.

Hari ini kamis malam jumat, Gus Toha akan mengisi pengajian di aula pondok pesantren. Kajian kitab rutin yang diadakan di dalam pondok memperdalam ilmu agama.

Dari jauh sayup sayup Gus Toha menjelaskan pelajaran kali ini.

Sekarang saya tanya, setan itu tugasnya apa? Ya, benar sekali. Menggoda manusia, menjerumuskan manusia agar berbuat maksiat dan dosa kepada Allah. Menjauhkan manusia dengan Allah Tuhannya. Setan sangat senang sekali dengan orang-orang yang berbuat maksiat kepada Allah. Meninggalkan sholat, berkata-kata dusta, menggunjing tetangga, orang yang datang meminta bantuan kepada kuburan serta pohon beringin, setan sangat suka sekali.

Di dalam Kitab suci Al Quran sudah dijelaskan bahwa setan itu musuh manusia yang sangat nyata.

“Lho, Gus. Bagaimana caranya melawan setan, kalau wujudnya saja tidak kelihatan.” Begitu kira-kira pertanyaan kalian. Kembali lagi kepada tugas setan diturunkan ke bumi, yaitu menggoda manusia untuk berbuat maksiat kepada Allah. Jadi dalam melawan setan, setan tidak perlu kelihatan.
Kalau setan kelihatan bentuknya, kelihatan wujudnya, kira-kira kalian mau gak diajak berbuat maksiat? Melihat wajah setan yang sebegitu rupa, meskipun dengan iming-iming kenikmatan dunia, kalian malah takut dan langsung berdzikir kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah. Maka sudah dipastikan setan gagal melaksanakan misinya.

Perang manusia dengan setan tidak ada habisnya sampai hari kiamat. Perang melawan godaan setan melenakan manusia. Mari kita berjuang sekuat tenaga melawan bujuk rayu setan dan senantiasa berdoa kepada Allah agar selalu dijauhkan dari setan yang terkutuk.

Nah, cara untuk melihat setan salah satunya yaitu dengan ibadah yang diperintahkan oleh Allah, yaitu dengan puasa. Dengan berpuasa, kita lebih peka terhadap perbuatan-perbuatan setan, seolah-olah setan tampak di depan. Kita bisa mengetahui dan merasakan segala bentuk rayuan setan bahkan sampai kepada aliran darah kita sekalipun.

Parkan dan aku mengangguk mengerti penjelasan Gus Toha di depan para santrinya.

14 Komentar leave one →
  1. 20 Juli 2012 20:31

    Ramadhan penuh berkah
    Selamat menjalankan Ibadah puasa

  2. 20 Juli 2012 21:30

    selamat menunaikan ibadah puasa ya mas

    mandor
    mari kita mengisi ramadhan dengan berperang melawan Setan

  3. 22 Juli 2012 09:49

    Ora ndelok setane yo ndelok “tong”e…

    mandor
    owalah, Pak Mars wes ngerti “tong”😀

  4. 24 Juli 2012 16:24

    “nafsu perut itu hanya sementara, hanya keinginan sementara. Setelah perut diisi dengan sedikit makanan, nafsu itu akan hilang dengan sendirinya.”

    ini jadi tagline puasa quwh bulan ini, makasi om Lem..

  5. 25 Juli 2012 00:04

    Selamat menjalankan ibadah puasa mas mandore …

  6. 26 Juli 2012 09:59

    Cerita yang maknyuss tenan Bang…🙂
    met puasa bang mandor, moga berkah…

    apa kabar nih?? seperti lama gak mampir aku,, hihihi…😛

  7. 18 Agustus 2012 14:42

    ketemu setan pernah juga tapi sore hari berwujud ular besar menganga hendak mencaplok kepala ini…

  8. 20 Agustus 2012 13:21

    Setane wis kalah kabeh to, Le’Ndor?😀

    Selamat idul fitri yaa, maafkan lahir dan batin. Salam untuk keluarga.

  9. 8 Desember 2012 10:26

    salam kenal ya

  10. 4 April 2014 05:30

    Saya lebih menyukai jauh dr setan….

  11. 4 April 2014 13:23

    cara penyampaian yang panjang dan berliku, justru semakin terasa banget, terpatri kuat dalam benak, yang akhirnya akan berhati-hati dalam bertindak

  12. 19 Oktober 2014 17:59

    Aku sendiri termasuk orang yang takut terhadap hal-hal berbau gaib kak, jadi paling anti menonton film horor atau acara yang berbau-bau seperti itu, hehehehe

  13. 3 November 2014 10:52

    ngapain juga ketemuan sama setan😀

  14. 18 November 2014 15:41

    Sala Takzim
    Kunjungan perdana nih kang, mohon dibantu supaya bisa melawan syetan kang
    pamit dengan membawa hikmah
    Salam Takzim Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: