Skip to content

Beban kerja

9 Juli 2012

Dulu, dulu sekali waktu saya masih sekolah SD selalu mendapatkan sebuah cerita tentang cita-cita rekan-rekan sepermainan. Cita-cita dan angan-angan yang memungkinkan nantinya bisa bebas dari segala tuntutan untuk sibuk bekerja.
“Nanti kalau sudah besar jadilah PNS karena PNS itu ada pensiunnya.”
“Pensiun di usia tua artinya tidak bekerja di masa tua, mendapatkan uang gratis yang mengalir terus tanpa harus capek-capek bekerja.”
Bahwa kata pensiun, atau uang mengalir tanpa harus bekerja menjadi sebuah bayangan yang menggiurkan. Tidak seperti simbok dan simbah yang masih sibuk ngurusi sawahnya. Sudah tua, yang harusnya beristirahat di rumah namun masih tetap gigih turun ke sawah merawat tanaman.


Menginjak sekolah SMP saya malah menemukan keanehan yang sangat memilukan. kakek tua sedang menebang pohon dengan kapaknya. Butuh 2 hari untuk bisa merobohkan pohon itu, belum lagi menyisir cabang dan memecah batangnya untuk dijual ke pasar Tumpang. Memikul sendiri ke pasar dengan harapan ada yang beli kayu bakarnya. 1 batang pohon itu akan habis dalam 6 hari kalau setiap
harinya bisa menjual semua kayu yang dia pikul ke pasar. Kalau sehari tidak ada yang beli, alamat kakek itu tidak mendapatkan uang, paling tidak untuk kerja kerasnya belum terbayar. Kemana anak-anaknya? mengapa kakek itu masih saja bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya sendiri? Kalau saya kenal dengan anak-anaknya, mungkin akan menyuruhnya bekerja menggantikan kakek tua itu.

Ketika menginjak sekolah SMU pun lebih banyak lagi sudut pandang yang saya dapat, bahwa pensiun dini itu akan membahagiakan. Iming-iming pensiun di usia muda, bebas dari rutinitas pekerjaan yang membosankan.
Tidak mengalami stress pekerjaan. Coba bayangkan, Itu nenek-nenek buruh gendong cabe atau buruh panggul beras di pasar beringharjo, itu berapa bayaran per minggunya? Kalau saya sih bayaran seminggu itu paling buat nonton bioskop bareng pacar langsung selesai. Nah bagi mereka buruh itu, mengapa tidak segera berpikir untuk menjadi lebih kaya atau setidaknya terbebas dari bekerja terlalu keras itu?

Maka ketika saya menginjak kuliah, saya mendapati dosen-dosen saya adalah orang-orang yang gigih dengan ilmunya. Beberapa yang sudah pensiun masih terus berkutat dengan lab dan penelitiannya. Paper dan penelitian ilmiah tetap ditulis dan dipublikasikan. Lho, apa yang dia cari? Toh sudah pensiun? Mengapa tidak beristirahat saja di rumah?
Ada juga tetangga saya yang sudah mempunyai jabatan tinggi, namun setelah pensiun dari perusahaannya masih terus mengajar dan memberikan seminar di berbagai tempat. Dia masih mengajarkan ilmunya kepada orang banyak.

Sekarang saya tahu, mereka-mereka yang saya temukan itu tidak patut saya kasihani, karena mereka bekerja sepenuh hati. Simbah dan simbok tetap bekerja turun ke sawah bukan karena kemiskinan, tapi mereka mencintai pekerjaannya. kakek tua penebang pohon itu tetap berjualan kayu bakar di pasar tumpang bukan karena terpaksa. Dia yakin bahwa menjual kayu bakar itu pekerjaan mulia, memikul kayu dan berjalan kaki itu menyehatkan. Melayani pembeli itu menyenangkan. Dia lebih memilih bekerja daripada berdiam diri di rumah mendapati asupan dari anak-anaknya. Dosen saya yang masih gigih mengajarkan ilmunya kepada semua masyarakat. Meski tidak berada di lingkungan kampus lagi, tapi tulisannya masih tetap bisa masuk kampus.

Saya salah alamat mengasihani mereka. Mereka mencintai pekerjaannya, tidak perlu dikasihani. Yang harus dikasihani adalah orang-orang yang bekerja sambil menggerutu. Orang yang menganggap bekerja adalah beban kehidupan yang harus dihindari sedini mungkin. Orang yang menyalahkan siapapun yang menyebabkan dia harus bekerja. Mereka bekerja karena terpaksa, tidak ada aura kepuasan batin seperti mereka-mereka yang bekerja karena panggilan hatinya.

6 Komentar leave one →
  1. 10 Juli 2012 05:59

    Bundo juga pernah kasihan salah alamat seperti itu.. melihat nenek2 tua berjualan di hari pekan membawa hasil kebun.. berjualan tanpa tenda di pinggir pasar.. kehujanan dan kepanasan.

    mereka menikmatinya, kaki dan kepala mereka dikuatkan oleh hujan dan panas
    berkah Allah senantiasa mengalir untuk mereka.. aamiin.

    Mandor
    orang yang berbahagia dengan pekerjaannya tidak bisa dibandingkan dengan uang
    Kadang kita mengukurnya dengan uang, tapi mereka mengukurnya dengan kepuasan batin

  2. 10 Juli 2012 12:41

    walaupun sudah pensiun kalau bisa tetap berkarya ya mas

    mandor
    Bekerja itu tidak bisa dibatasi dengan umur karena bekerja itu merupakan kesatuan hidup untuk memuliakan kehidupan.

  3. 10 Juli 2012 15:08

    Wah, setelah pulang lama sekarang mulai sibuk dengan beban kerja…
    Tapi semoga tak ada kerja yang membebani
    Salam!

    mandor
    Beban kerja memang harus dikerjakan.
    Kerja yang membebani? Orang itu harus dikasihani karena selalu mengeluh

  4. 17 Juli 2012 11:38

    nice post🙂

    mandor
    terima kasih atas kunjungannya

  5. 18 Maret 2014 11:06

    Mereka hanya ingin merasa sebagai orang yang berguna, karena itu apapun kerjaan mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.

  6. 21 April 2015 07:20

    Intinya segala sesuatu kalau dilakukan sepenuh hati pastinya akan mendatangkan kepuasan.
    Dan kepuasan tdk melulu bisa diukur dgn materi..😀
    Terimakasih sharingnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: