Skip to content

Inovasi

2 Maret 2012


Inovasi adalah sesuatu yang baru dan atau reka ulang yang memberikan nilai tambah bagi dirinya dan sebanyak-banyaknya orang. Dalam hal ini, yang dimaksud nilai tambah adalah keuntungan dari segi ekonomis baik pengguna dan pembuatnya. Inovasi-inovasi yang muncul kerap belum mencapai ke situ, kadang hanya satu sisi saja. mempermudah pekerjaan pembuatnya atau menguntungkan orang lain sedangkan bagi diri sendiri tidak menguntungkan.
Seringnya, inovasi yang dihasilkan masih dalam tahap penemuan baru saja, dalam arti karya-karya yang diciptakan bisa dipakai untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang dianggap penting oleh pembuatnya. Sementara inovasi sendiri adalah karya-karya yang memang dianggap penting oleh sekelompok orang (dalam jumlah yang cukup banyak) dan berpotensi untuk menghasilkan keuntungan ekonomis bagi pembuatnya (dan atau penyandang dananya).

Bagi fast reader, artikel hanya sampai di sini saja. bacaan ke bawah berikut merupakan penjelasan kesimpulan di atas itu.

Nah, sekarang bagian skeptisnya.
Masalahnya adalah belum banyak yang tahu apa itu inovasi. Ada yang berpikir bahwa ketika seseorang memberikan nilai tambah pada suatu produk maka dia sudah melakukan inovasi, padahal orang lain merasakan belum. Ada yang telah memberikan banyak nilai tambah tapi belum layak disebut inovasi, padahal sudah banyak yang merasakan nilai tambahnya. Ada juga yang tidak melakukan apa-apa tapi produknya malah meledak di pasaran, laris manis, padahal bagi pembuatnya produk tersebut sudah banyak di pikiran orang dan biasa.

Apple mengeluarkan produk yang ‘hanya begitu’ saja seperti ipod, mengapa disebut inovatif?
sedangkan bajakan produksi Cina seabrek yang lebih murah bukan inovatif?
Dell yang membuat PC menjadi ‘personal’ kembali yang memungkinkan seseorang memesan dan merakit sendiri komputer idaman mereka, mendapatkan uang dari konsumen 2 minggu sebelum membayar supplier mereka tanpa harus memiliki stok apakah inovatif?
Mengapa itunes inovatif sedangkan napster tidak?
Google? Toyota? Maspion? Mak Icih kripik pedas?

Mari kita berdiskusi saja. Kalau salah mohon dibetulkan, kalau kurang mohon ditambahkan.
Kita lihat saja slogan-slogan perusahaan ternama yang mengedepankan inovasi dalam produknya. “Leading Innovation” milik Suzuki, “Innovation technology” milik LG, “Inovasi tiada henti” milik Yamaha, “Ideas your life” milik Panasonic, kesemuanya bertujuan untuk memberikan nilai lebih bagi semua konsumennya, terlebih lagi bagi kemajuan perusahaannya.
Perusahaan-perusahaan yang sudah mempunyai nama besar mengklaim bahwa mereka sudah melakukan inovasi sehingga produknya merajai pasar. Mereka melakukan inovasi bisa dalam produk, proses, ide ataupun lainnya sehingga produknya memiliki hal yang baru yang lebih menguntungkan. Saya pikir perusahaan besar itu lebih dituntut secara psikologis untuk selalu melakukan inovasi agar tidak kalah di pasaran. Karena mereka membawa nama besar, sehingga mau tidak mau harus terus berubah agar bisa mempertahankan penguasaan pasar.

Kita kilas balik saja ke belakang sejenak. Mungkin beberapa rekan ada yang masih ingat, harga sebotol Aqua bisa lebih mahal daripada seliter bensin. Orang berpikiran skeptis, sangat skeptis. Bagaimana mungkin Harga Aqua Rp 3000 sedangkan bensin masih berada pada harga Rp 2600. Begitu juga dengan rokok Sampoerna A mild, secara terang-terangan mencantumkan kandungan Nikotin dan Tar pada kemasannya. Kebanyakan orang berpikiran sama, mencibir. Bagaimana mungkin menjual produk konsumsi dengan menunjukkan kandungan racun produk itu sendiri sementara rokok lain sedang mempromosikan ‘taste’ nya. Hasilnya bisa kita lihat sekarang, Aqua tetap merajai penjualan air kemasan, sementara A mild tetap pada kandungan Tar dan Nikotin terendah di semua merek rokok.

Di balik itu, sebenarnya tidak semua kegiatan inovasi bisa sukses di pasaran. Dalam arti, inovasi yang dilakukan hanya berhenti pada “penemuan baru” saja. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara maju sekalipun, jumlah hak paten yang dikeluarkan jauh melebihi jumlah produk yang terjual di pasaran. Perusahaan besar yang memiliki sumber daya raksasa seperti P&G sendiri mengakui hanya sekitar 15% dari produk barunya sukses di pasaran.
Contoh yang paling mudah adalah pada kasus produk gagal, ini menarik. Ketika produk diluncurkan, masyarakat menyambut dengan baik sehingga penjualan sukses. Selang beberapa waktu, produk diharuskan ditarik karena ada kelainan modul.
Yang cukup sering kita dengar misalnya, sistem elektrikal ataupun sistem pengereman pada mobil. Nah, apakah ini masih bisa disebut sebagai inovasi? Secara ide mungkin iya dengan bukti : cukup diterima di pasaran. Tapi secara produk ternyata belum tentu dengan bukti: kegagalan produk / kelainan modul. Secara keseluruhan, saya pikir inovasi perlu diukur efeknya secara global perusahaan, apakah total biaya dari penarikan dan perbaikan kegagalan produk itu mengurangi profit yg sudah dibuat sebelumnya? Jika iya, secara keseluruhan scorenya mungkin saja jadi tidak inovatif.

Bukankah sekarang setiap penemuan baru itu berpotensi inovatif? Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita lakukan analisis lebih lanjut.

Apakah penemuan baru itu lebih baik dari produk lain dengan fungsi yang sama? Ini penting bagi konsumen dan pemakai. Agar penemuan baru tersebut dilirik oleh konsumen harus menawarkan nilai lebih dari yang sudah ada. Memudahkan pengoperasiannya dan menjadikan pekerjaan konsumen lebih baik. Jika penemuan baru tersebut tidak lebih baik dari produk lain dengan fungsi yang sama, maka penemuan baru itu hanya sangat membantu bagi pembuatnya sendiri.

Baiklah, kita anggap saja penemuan baru itu lebih baik. Apakah orang lain mengetahui kelebihan tersebut, keunggulan tersebut? Bagaimana membuat orang lain percaya bahwa penemuan baru itu memang punya keunggulan? Tidak dapat dipungkiri bahwa persepsi masyarakat turut andil dalam perkembangan penemuan baru tersebut. Bila kelebihan itu tidak dikomunikasikan dengan baik, pemasaran yang produk yang baik, maka kelebihan itu tidak akan pernah ada di pasaran. Ini lebih ke arah saluran komunikasi marketing, bagaimana pesan produk disampaikan kepada masyarakat.

Anggap saja penemu ini memiliki kecakapan dalam dunia marketing sehingga pesan produk yang disampaikan ke masyarakat bisa dipahami semuanya. Apakah masyarakat otomatis berpindah? Belum tentu juga. Karena kelebihan yang ditawarkan bisa jadi hanya menurut penemunya saja, hanya menurut pembuatnya saja. Bagi orang lain, kelebihan itu bisa jadi tidak dibutuhkan oleh mereka. Di sini, pembuat harus memahami keinginan konsumen. Pola pikir para penemu masih cenderung product-oriented, sementara untuk memahami konsumen dibutuhkan pola pikir consumer-oriented.

Anggap saja penemu sudah berpikir ke arah consumer-oriented, apakah sudah bisa disebut inovasi? mungkin masih belum. Konsumen masih harus mencocokkan dulu dengan perangkatnya yang lama. Apakah cocok dengan instalasi yang lama atau tidak. Kalau harus mengubah total dan butuh biaya besar, konsumen masih berpikir seribu kali untuk beralih. Masih terlalu umum ya. Contohnya, sebuah perangkat penyimpan data dengan kapasitas yang besar namun membutuhkan koneksi komunikasi yang lain dan benar-benar baru. Padahal sebagian besar masyarakat kita familiar menggunakan USB, Wifi, bluetooth, RS 232, port, LAN. Kalau harus beli perangkat baru sebagai jembatan komunikasi data, maka produk baru itu masih harus menunggu waktu yang lama untuk bisa diterima pasar.

Anggap saja produk baru tersebut cocok dengan istalasi yang ada di rumah konsumen. Apakah konsumen mau memakai produk baru tersebut? sekali lagi belum tentu. Kali ini faktor reputasi memegang peranan yang sangat besar. Bila konsumen percaya bahwa produk tersebut memiliki masa depan yang baik dan layanan purna jual yang baik pula, maka konsumen mau beralih ke produk baru tersebut. Tapi jika masih diragukan reputasinya, apalagi kualitasnya, maka produk baru tersebut hanya berumur pendek saja.

Jika sudah sampai tahap ini, maka ada satu hal lagi yang tidak boleh diremehkan, berapa lama kompetitor membuat barang sejenis? meniru, memodifikasi jadi lebih baik? Jika sang penemu hanya berpikir sendirian, kompetitor mengerjakan puluhan orang bahkan ratusan untuk berpikir tentang produk baru tersebut. Ndak usah jauh-jauh ngomongin cina. Di negeri kita sendiri Indonesia, punya sumber daya yang sangat kreatif sekali untuk membuat
produk tiruan apapun. Mungkin hanya dalam hitungan minggu atau hitungan bulan saja produk tersebut tidak menjadi produk baru lagi.

Dengan pemaparan tentan inovasi di atas semoga membuka pemahaman kita bahwa inovasi itu tidak hanya menemukan produk baru saja. Kemampuan teknis memang diharapkan dalam sebuah inovasi. Di lain pihak, pertanyaan-pertanyaan yang berorientasi bisnis justru lebih sulit menjawabnya. Padahal kita tahu jarang sekali orang yang mahir di dua tempat, mampu secar teknis dan lihai dalam bisnis. Inovasi secara perlahan-lahan membangun masyarakat yang bersinergi antara iptek dan dunia bisnis.
Mari kita berpikir untuk melakukan inovasi, perbaiki lagi, dan lagi untuk memberikan nilai lebih bagi konsumen. Hanya dengan begitu, produk inovasi bisa bertahan dari gempuran dari kompetitor dan produk bajakan yang senantiasa mengikut.

————————–
catatan : Nama produk dan perusahaan yang tertulis di atas hanya sebagai contoh saja. Saya tidak dibayar sedikitpun untuk menuliskan mereka pada artikel ini.

20 Komentar leave one →
  1. 2 Maret 2012 06:21

    gimana nasib orang yang tidak ngerti teknis dan tidak lihai dalam dunia bisnis?
    jadi karyawan aja ya😛

    tapi setuju sih saya, dengan terus berinovasi kita bisa selangkah lebih ke depan dari yang sekedar mengekor dari belakang hehehe

    jadi ingat, awal kami buka usaha di sini, begitu liat billing kami, tempat lain nyontek semua, terus kami ganti lagi xixix … begitu terus dan yg ngikutin bingung sendiri. lha, emange ngikut2 itu juga gak pake ilmu? Teteplah, klo gak ngerti malah bisa berantakan ‘kan hahaha

    mandor
    ini artikel belum selesai di edit kok langsung maen samber saja😛

    Orang tidak mengerti teknis maupun bisnis? ah … saya kira masing-masing orang punya kelebihan kok di salah satu itu. Apapun bentuk teknis, apapun bentuk bisninya pasti setiap orang punya keahliannya sendiri. Kalau masih nyerah jadi karyawan, kapan mau bisa berkembangnya …

    Para pengikut hanya kebagian sisa dari kejayaan sang inovator. tentunya value yang didapatkan akan lebih sedikit. Maka kok ya masih ada perusahaan atau perorangan yang “selalu” menduplikat produk orang lain, padahal kalau mbikin inovasi sendiri pasti valuenya akan berlipat. Tapi ya itu terserah masing-masing. Mungkin dia masih beranggapan “dapet sisa populernya gak papa, yang penting masih untung”

  2. 2 Maret 2012 06:47

    inovasi tiada henti
    halah malah ngiklan

    mandor
    wes tak dhisiki ngiklan e, neng dhuwur wis tak tulis xixixi

  3. 2 Maret 2012 14:50

    Bener yach pertama kali aqua keluar dulu heboh banget…krna harganya lebih mahal dr bensin…tp trnyata setelah aqua sukses, sekarang banyak banget yang nyontek…..sampe ke desain botol dan galonnya sama….ckckck….

    mandor
    ide briliannya baru terasa setelah bertahan selama beberapa tahun
    sekarang Aqua menjadi market leader air kemasan di Indonesia

    • 5 Maret 2012 16:47

      meskipun sekarang aqua berusaha mati2an menahan promosi mesin pure it yg cukup ekonomis dari segi harganya….kalau ga percaya liat aja iklan2 aqua sekarang….

      mandor
      iya benar, aqua sedang dihadapkan kepada kompetitor Pure It, sebuah produk yang tidak main-main. Saya rasa hasilnya belum bisa dilihat sekarang karena masyarakat bawah masih belum bisa mengganti “air rebusan” dengan “air mentah” nya Pure It

  4. 2 Maret 2012 19:59

    Indonesia memang mempunyai banyak SDM yang kreatif. Tetapi lebih banyak kreatif menyempurnakan produk. Mungkin karena membuat produk baru lebih sulit (sedikit).

    mandor
    sebenarnya sekarang tugas kita tinggal mengarahkan SDM kreatif itu untuk menjadi seorang inovator yang handal, bukan hanya sebagai penyempurna produk saja

  5. 3 Maret 2012 04:23

    Inovasi adalah kata yang memang lebih cocok digunakan di dunia bisnis. Satu tema dengan inovasi, beberapa tahun terakhir marak digunakan kata go green pada beberapa produk. Alhasil, semakin go green semakin laris. Ya samalah dengan inovasi. Produk produk dalam negeri yang lebih inovatif tergerus oleh produk bermodal gede.

    Tapi sebenarnya bukan hanya masalah modal saja yang menjadikan produk lokal melempem. Tentang masalah penyempurnaan produk (kita tidak berani mengatakan produk kita gagal biar tidak ada penarikan barang yang ujung2nya rugi di akomodasi) dan tentang malasnya ngurusi hak paten.

    Eh, komentar saya kok loncat kemana mana ya? hehe.. Salam hangat Pak Mandor🙂

    mandor
    Eh .. masbro
    terima kasih atas komentarnya yang melengkapi artikel saya di atas. Saya tidak perlu menambahkan lagi. Sekali lagi terima kasih, matur sembah nuwun atas pengetahuan baru itu bagi saya

  6. 3 Maret 2012 09:29

    inovasi memang dibutuhkan untuk hal baru yh…

    mandor
    Menurut definisi di atas, inovasi sudah termasuk penemuan baru. Tapi penemuan baru belum tentu bisa disebut inovasi karena penjawabaran di bawah itu.

  7. 4 Maret 2012 14:01

    inovasi harus disertai aksi😉

    mandor
    yup tepat sekali. Aksi akan menjalankan segala bentuk perubahan

  8. 5 Maret 2012 17:13

    banyak ide2 hebat yang tidak mendapat kesempatan untuk direalisasikan. Ide2 yang kita liat merupakan sudah dalam bentuk inovasi karena ide2nya sudah direalisasi

    mandor
    hal yang harus dikembangkan dari para penemu ide-ide itu adalah komunikasi dan pemasaran. Bahkan kalau perlu ada kerjasama tim antara penemu ide dan ahli komunikasi pemasaran agar ide yang brilian itu segera direalisasikan.

  9. 5 Maret 2012 19:28

    Om Mandor, saya baca satu setengah kali, dan saya semakin yakin, saya merasa ini adalah bahan kuliah yang dibawakan oleh Om mandor.:mrgreen: Apa Om ngajar di sebuah lembaga pendidikan?🙂

    mandor
    Lhaaa … ini apa lagi
    Paling-paling saya ngajar anak-anak pabrik hahahaha

  10. 6 Maret 2012 09:02

    mungkin para inovator perlu mendengar apa kata permintaan pasar dulu sam, sebelum menciptakan sebuah produk.

    Kalau Mandor Tempe slogane opo sam? Pas dilidah rakyat ya hehehe

    mandor
    yup betul. Salah satu sifat dari sang inovator adalah “sense of customer needed” kemampuan menterjemahkan kebutuhan masyarakat dalam bentuk barang yang sesuai. Orang-orang cerdas ini memikirkan “lebih dulu” daripada yang lain. Padahal ketika sudah jadi barang dan laku keras, orang lain pasti akan bilang “kalau begini aku juga bisa” naahh loo
    Kalau pabrik ini slogannya ya Tempe makanan kita semua hahaha

  11. 7 Maret 2012 16:34

    Inovasi itu gabungan antara Inova & asi
    Inova = mobil, asi ya asi
    Jadi inovasi = asi versi mobile…
    Bentuknya kecil seukuran HP

    mandor
    seperti botol susu gitu maksudnya ya pak Mars

    • 7 Maret 2012 19:02

      he3, bisa dibawa kemana2 ya pak guru😀

      mandor
      onok-onok ae😀

    • 13 Maret 2012 01:36

      bwahahaha…
      itu gathukologi pak mars
      kerenpun😀

      mandor
      sampeyan juga kudu belajar sama Pak Mars msalah gathukologi ini

  12. 13 Maret 2012 01:39

    nampaknya secara prinsip uraian pak mandor di atas adalah memberikan penekanan pada “nilai guna” sesuatu hal yang baru. begitu kah?

    mandor
    whaaahaha ternyata cocok sekali

  13. 20 Maret 2012 07:21

    paparan yg menarik. semoga blog ini jg lebih berinovasi kedepannya😀

    mandor
    terima kasih ya atas dukungannya

  14. 17 April 2012 10:42

    Inovasi adalah gak cuma yg baru, tapi membuat yg lam tampak lebih bagus dh perbaikan sana-sini :d

    mandor
    iya, perbaikan dari apa yang sudah ada juga termasuk inovasi

  15. 29 April 2012 07:45

    Dalam satu usaha memang harus menggaji orang-orang yang inovatif yang lalu diwujudkan oleh para teknisi, dan tentu saja kemudian diserahkan ke orang yang mempunyai bakat pemasaran top😀

    Eh, iki postingan inovatif lho, Le’Ndor, soale ra kepikir mikir ginian (boso opo iki)😀
    Sampeyan kok cerdas to?

    mandor
    lhaa kok aku iso cerdas ngene yo, kesurupan opo iki

  16. 1 Mei 2012 09:51

    hmm… *manggut-manggut (ketok yen ora diwoco)

    jebul pindah omah to, pantes wingi kesasar ning kuburan.

    mandor
    pindahan ra ngomong-ngomong

  17. 6 Mei 2012 14:49

    mirip seperti di dunia perbukuan. ketika satu buku inovatif muncul hingga dicetak ribuan eksemplar, tak lama kemudian muncul buku-buku serupa yang mencoba mencari peluang meraupkeuntungan yang sama.

    nah, saya jadi ingat konsep life cycle of product di matakuliah manajemen operasi😀

    mandor
    hahaha inovasi bisa diimplementasikan pada apa saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: