Skip to content

Cinta segitiga

15 Februari 2012

Masih dalam aroma cinta, saya lanjutkan kembali cerita Perempuan Desir Angin.  Jika sahabat tidak nyambung dengan cerita ini, monggo diklik saja kategori Desir Angin itu, ceritanya berurutan kok. Termasuk puisinya.

Monggo sebelum membaca, disiapkan dulu teh dan kopinya. Ceritanya sedikit membutuhkan waktu untuk membacanya. Selamat menikmati.

———————————————————

Jalan raya hanya lengang. Melintas satu dua motor disusul dengan sepeda ontel yang dikendarai oleh orang tua. Sebuah warung rokok di seberang jalan, sang empunya keluar membawa ember berisi air. Rupanya dia menyiram jalan raya dengan air bekas. Terlihat asap menguap dari atas aspal yang tersiram. Rupanya matahari telah memanggangnya selama siang ini.
Jalan ini termasuk mulus namun sepi kendaraan melintas. Sepertinya termasuk kelas jalan 3A sehingga jarang dilalui oleh kendaraan besar. Lurus ke depan sekitar 50 meter sudah keluar ke jalan raya yang lebih besar, jalan raya antar propinsi. Sebagaimana diketahui, kota ini adalah kota industri baja. Jalan besar itu sudah penuh dengan mobil panjang berisi balok besi dan lempengan baja. Disusul dengan bis-bis Antar Lintas Sumatra dan angkot-angkot yang ikut menyesaki jalan. Sore menjelang, menurunkan tensi panasnya yang sedari siang membakar kota. Daun-daun kering pohon beringin lepas dari batangnya, terbang melintir di tiup angin untuk kemudian jatuh di pinggir jalan.
Kakiku kini sudah berada di pinggir jalan raya antar propinsi. Bersama Perempuan Desir Angin yang berada di sampingku, menikmati suasana sore bertabur kemilau sinar matahari.

“Mau makan di mana ka?”

“Harusnya kau lah yang lebih tahu kota ini, masak tanya sama aku?”

“Ah iya, aku lupa.” Senyumnya menyungging, renyah. Wajahnya cerah. Perempuan ini begitu cantik, terlalu cantik buatku. Siapapun itu tak akan pernah rela melepaskan sebuah senyuman dan wajah cerah seperti ini, termasuk aku.

“Kalau begitu, kita makan di dalam mall itu saja.”

“Heh?! jangan. Harganya pasti mahal” Sergahku.

“Kalau begitu kita cari yang lain saja” dia berjalan dengan cepat. mau tidak mau aku menyusulnya. Tiba-tiba dia masuk ke sebuah pintu kaca. Akupun juga mengikutinya masuk. Sebuah cafe, serasa sejuk di dalam. Seorang perempuan berseragam menyambut kedatangan Perempuan Desir Angin dengan wajah cerah. Dari wajahnya, perempuan berseragam itu menyiratkan mereka saling kenal, atau paling tidak sering bertemu. Itu artinya, perempuan desir angin sudah menjadi langganan cafe ini. Sedangkan aku sendiri disambut oleh seorang cowok berseragam yang sama juga. Rupanya cafe ini memberikan kenyamanan lebih bagi para pengunjungnya.
Perempuan Desir Angin memilih meja, akupun mengikutinya. Wajahnya riang. Aku duduk di hadapannya, masih dengan wajah terheran-heran dengan suasana cafe ini. Sungguh, baru kali ini aku merasakan masuk cafe. Seumur-umur aku tidak pernah, untuk sekolah aja harus kerja keras. Nah ini, memasuki cafe dengan begitu mudahnya. Ahh, dia mungkin sedang seneng hatinya kepadaku.

“Mau makan apa?” Tanyanya

“eemm … ”

“Biar aku yang pilih deh.”

“heh??”

“Udaah, gak usah nolak ya.”

Perempuan desir angin berbicara sedikit kepada pelayan berseragam di sampingnya. Pelayan itu tersenyum tanda dia mengerti, kemudian mohon diri.
Tidak berapa lama, pesanan datang. Sebuah nasi panas, ikan goreng dengan posisi bersayap, sayur kangkung beraroma laut, sup kuah yang isinya belum kuketahui. Hmm benar-benar lezat. Kali ini aku akan memakan sesuatu yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Aku ragu mau memakannya, mau menikmati makanan yang ada di meja rasanya tidak tega. Tidak tega bahwa dia yang mbayar. Namun perempuan desir angin sudah memulai makan.

“Ayolah ka, kapan lagi kita bisa makan bareng. Kan kesempatan seperti ini jarang sekali.”

Kini aku benar-benar memakannya. Suasana sudah cair.

“Sekarang ceritakan tentang Ray”

“Emm … gak mau”

“Kenapa?”

“Takut kaka marah”

“Oke, saya janji tidak marah”

“janji ya”

“iya!” jawabku sambil memandang matanya lekat-lekat. Namun di dalam hati, jawaban itu masih ada rasa bimbang, mengambang.

Di sela-sela makan, dia mulai bercerita.

“Ray. Pertama kali kenal ketika aku bekerja di Grand Mall. Bukan di kota ini, tapi di pinggiran Jakarta sana. Dia datang dengan sebentuk wajah yang kuat. Rahangnya kuat, begitu mempesona. Siapa sih perempuan yang tidak mau dengannya. Sosok yang tegas, sorot matanya itu membuat perempuan yakin akan terlindungi jika berjalan di sampingnya.
Dia sering menjemputku sepulang kerja, meskipun dia bawa motor dan diparkir di mall, dia tetap menawarkan untuk naik angkot karena aku terbiasa pulang naik angkot. Dia sering mengantarku pulang naik angkot, dia sering mampir ke kontrakan, makan nasi goreng bareng. Dalam seminggu dia menyempatkan bertemu denganku paling tidak 4 sampai 5 kali. Aku sih seneng-seneng aja. Di depan teman-temanku, aku berani ngomong “sudah ada yang ngajak jalan”.

“Kamu mencintainya?”

“Tuuh kan, kaka. Mulai lagi deh.”

“Oke oke, gak papa, teruskan.”

“Setiap kali mengantarku pulang, aku selalu minta naik angkot. Selama di angkot, dia selalu memegang tanganku.”

Wajahku berubah, air muka berubah. Terlihat sekali aku tidak setuju dengan apa yang baru saja dia ucapkan.

“Memegang tanganku saja Ka. Hanya itu kok”. sambil memandangku dengan matanya yang bening untuk meyakinkan.

“Dia adalah seorang pengusaha, atau setidak-tidaknya bersemangat untuk mendirikan sebuah usaha. Aku tidak pernah tahu usahanya seperti apa, tapi beberapa kali kudengar ketika dia sedang telepon sering menyebut nyebut onderdil motor dan mobil. Kupikir dia seorang sales onderdil, atau bahkan punya sebuah bengkel sendiri. Perjalanan antar kota yang dia lakukan selalu diberitahukan kepadaku. Tapi dia masih menyempatkan diri untuk mengunjungiku.
Terkadang di waktu senggang dan tidak ada yang diomongkan, aku membuka-buka buku catatan yang selalu dibawanya, Di buku catatannya di halaman pertama tertulis The power of dream. Kekuatan dari mimpi-mimpi yang diidamkan. Sepertinya sebuah penyemangat yang bagus”.

Perempuan Desir Angin menampakkan wajah yang cerah ketika menyebutkan The power of dream. Rasanya aku pernah dengar, seperti slogan sebuah merek motor terkenal. Ah, sudahlah, bagaimanapun slogan itu telah menginspirasi seorang ray untuk menjadi seorang pengusaha.

“Dia menderita kanker otak. Katanya sih sudah stadium 4. Di sela-sela waktu jalan-jalan ke taman kota, dia sempat mengatakan hal itu. Tidak jarang dia mengeluhkan sakit di kepalanya. Sakit yang amat sangat. Bahkan pernah suatu kali dia pingsan di dalam angkot. Bisa dibayangkan bagaimana paniknya aku saat itu. Mau tidak mau aku meminta sopir untuk mengantarkan ke rumah sakit di tengah kota. bagaimanapun dia harus segera mendapatkan perawatan dokter. Tapi alhamdulillah setelah dia sadar, dia minta langsung pulang dan minum obatnya sendiri di rumah.”

Dalam hati aku bergumam sendiri. Bukannya stadium 4 itu sudah tidak bisa ngapa-ngapain. Lha ini masih bisa mengunjungi kamu dengan bebas. Apa ada hal yang disembunyikan dari dia itu? Apakah penyakit kanker otak yang diomongkan itu benar-benar adanya?

“Dia mempunyai perkumpulan motor. bahkan kerap melakukan Bali, Balap Liar, di jalan-jalan kota Jakarta. Aku pernah diajak ikut balapan lho. sebagai pembonceng. Balapan biasanya dilakukan jam 1 hingga jam 3 pagi. Jalanan sepi, bahkan beberapa kali dia berani mbayar polisi untuk menutup jalan untuk balapan.”

“Ups .. Lha kalau jatuh gimana? kalau sampai gegar otak?”

“Namanya juga lagi seneng-senengnya. Aku juga ikut merasakan sensasinya berada di atas motor dengan kecepatan tinggi. Merasai angin tengah malam menampar wajah dengan kecepatan tinggi. Apalagi pada sesi drag jarak pendek. Saat itu pengaman yang dipakai hanyalah selendang yang diikatkan di perut, agar aku tidak sampai terjatuh atau tertinggal.”

Aku hanya geleng-geleng kepala saja. mau gimana lagi, itu sudah terjadi.

“Kalau sekarang aku minta, kamu jangan ikut-ikutan lagi balap liar itu. kamu mau nurutin aku gak?!”

“Tapi kan dia kena kanker ka?”

“Ah … alasan itu lagi! Gak ada hubungannya kanker dengan bali!” Jawabku sedikit menaikkan nada bicara

“Kaka marah ya?”

“Maaf .. maaf, tadi aku janji tidak marah. Maafkan aku ya. Hanya kuminta mulai sekarang kamu tidak ikut-ikutan gitu-gituan. Aku gak suka.”

“Iya”. Perempuan Desir angin menunduk. Terlihat menyesal.

“Sekarang dia masih sering mengunjungimu, di kota ini?”

“Sejak aku pindah kerja di kota ini, dia jarang ke sini. Mungkin karena jaraknya jauh dari Jakarta kali ya. Minggu ini dia sedang ke Tasik, ada urusan bisnis katanya”.

“Oh gitu”.

Terdiam sesaat.

Setelah menyelesaikan makannya, dengan mata berbinar perempuan desir angin memandang ke bagian belakang cafe itu. Sebuah alat set live music sedang menganggur. Gitar dan bass dengan merek fender serta drum set tertata rapi. Beberapa amplifier juga diatur sedemikian rupa agar bisa menghasilkan suara yang bisa memenuhi ruangan. Sebuah keyboard merek roland, tidak kuketahui serinya, berdiri gagah pada sebuah kaki silang, tertutup dengan kain hitam.

Perempuan Desir Angin beranjak dari tempat duduknya. Menuju tempat cuci tangan dan setelah itu bercakap-cakap dengan salah seorang di dekat kasir. Orang itu berpakaian tidak sama dengan yang lain, kurasa mungkin dia manajer tempat ini, atau mungkin supervisornya. Perempuan Desir Angin bercakap-cakap dengan wajah gembira dan sesekali tertawa. Tidak berapa lama dia kembali ke meja bersamaku.

“Boleh kok ka. ayo.”

“Apanya yang boleh?”

“Itu, di sana itu. Kaka boleh memainkan sesukanya. Katanya bisa main gitar”

“Heh.” Aku jadi bingung. Ini maunya apa

“Sudahlah, gak usah sungkan-sungkan. Ayo tunjukkan jari-jarimu di atas fret gitar Fender itu.”

Ternyata dia juga tahu merek gitar rupanya. Aku dengan sangat malu-malu mengikutinya melangkah ke dalam, ke atas panggung. Kemudian mengambil gitar dan menyalakan amplifire. Ahh, kalau cuman seorang begini mungkin lebih enak kalau pakai gitar kayu itu, akustik saja. Tidak terlalu berisik.
Aku lepas gitar fender dan ganti gitar kayu bolong, tentunya ada spul magnetnya agar bisa dimasukkan ke amplifire. Sebuah efek gitar AX 1500 berada di bawah kupilih dengan mode clean. Cukup sudah senjataku kali ini.

Kucoba masing-masing senar, rupanya nadanya tidak ada yang miring. Pas, cocok denganku. Kucoba selentingan chord satu demi satu. Ee.. tiba-tiba perempuan desir angin sudah masuk dengan lagunya sendiri, dan suaranya itu … masuk dengan chord yang ada di tanganku. Untung saja aku masih hafal dengan chord lagunya, hanya ada 3 saja yaitu C, D dan Bm. Sedangkan picking hanya sekali di G. Aku menikmati gitarku, perempuan desir angin menikmati lagunya.

Every time I think of you
I get a shot right through into a bolt of blue
It’s no problem of mine but it’s a problem I find
Living a life that I can’t leave behind

There’s no sense in telling me
The wisdom of a fool won’t set you free
But that’s the way that it goes
And it’s what nobody knows
And every day my confusion grows

Every time I see you falling
I get down on my knees and pray
I’m waiting for that final moment
You’ll say the words that I can’t say

I feel fine and I feel good
I feel like I never should
Whenever I get this way, I just don’t know what to say
Why can’t we be ourselves like we were yesterday

I’m not sure what this could mean
I don’t think you’re what you seem
I do admit to myself, That if I hurt someone else
Then we’d never see just what we’re meant to be

Every time I see you falling
I get down on my knees and pray
I’m waiting for that final moment
You’ll say the words that I can’t say

Aku mengulangi chord gitarku pada bagian reff itu hingga tiga kali. Aku juga menirukan apa yang dia ucapkan, bernyanyi bersama. Aku mengambil suara dua sedangkan dia tetap pada nadanya.

Aku memperlambat petikan gitar pada bagian terakhir sebelum benar-benar menghabiskan syair lagunya. Begitu lagu sudah selesai, Perempuan Desir Angin berbalik dan menatapku dengan mata yang teduh, berkaca-kaca. Seulas senyum diukir pada wajahnya, tangannya menyentuh pipiku, membelai hangat. Aku juga tersenyum

Tepuk tangan beberapa pengunjung terdengar, tidak membahana memang karena tidak banyak orang. Namun tepuk tangan itu merupakan penghormatan padanya. Dia membawakan lagu dengan jernih.
Aku tenggelam dalam belaian tangan asmara, tidak menghiraukan suara tepuk tangan itu.

10 Komentar leave one →
  1. 15 Februari 2012 18:17

    ..
    ini settingnya di kota dingin malang ya om..? ^^
    ..

    mandor
    hahaha bukan, sayangnya bukan kota Malang
    Tapi kota di ujung barat pulau jawa. Semoga sampeyan mengetahuinya

  2. 15 Februari 2012 19:26

    cinta segi tiga hmm
    saya pernah punya cinta segi empat hahaha

    ups

    lanjut baca dulu deh😀

    mandor
    lho lho kok cinta segi banyak
    Monggo dilanjut saja mbacanya, yang ringan-ringan saja

  3. 15 Februari 2012 19:39

    ikan goreng dengan posisi bersayap..
    .
    mudah2an kaka gak harus menderita sakit apapun untuk bisa selalu bersama PDA.

    mandor
    seumur-umur baru kali itu saya merasakan makan enak, ikan dengan gorengan garing posisi seperti bersayap.
    Kaka akan terus memperjuangkan cintanya kok bundo, tenang sajalah. tunggu saja kelanjutannya

  4. 18 Februari 2012 12:15

    cerita yg menarik untuk disimak, keren ceritanya sob….kunjungan makan siang…

    mandor
    terima kasih atas kunjungannya di blog ini ya
    Semoga saja saya bisa mampir kunjungan balasan ke sana

  5. 19 Februari 2012 03:53

    cinta segitiga..
    aku pernah merasakannya cinta segi enam BAng

    wow
    hhe..

    mandor
    wow kok sangar begitu … cinta segi enam itu bagamana betuk hubungannya hihihihi

  6. 19 Februari 2012 11:47

    Oalaahh, stadium 4 kok yo isih mbalap. Kuwi jelas mboyo, Le’Ndor. Mbok PDA nya dibilangin, jangan percaya gitu to. Hih, gregetan aku😡

    (Lho, kok aku sing ngomel:mrgreen: )

    mandor
    mangkanya saya sudah bilang kalau Perempuan Desir Angin itu jangan ikut-ikutan lagi Bali. Lha kalau nyawa sendiri sih gak masalah, ini pake bonceng nyawa orang … *$$$$*&#$$
    Untuk urusan balapan itu saya melarang ikut-ikutan

  7. 20 Februari 2012 05:53

    hehe… Kocak juga nih yang stadium 4😀
    Menantikan lanjutan kisah PDA🙂

    mandor
    menurut ceritanya sih begitu, stadium 4 tapimasih bisa mengendarai motor … aneh kan
    Ditunggu saja kelanjutan ceritanya Perempuan Desir Angin ini

  8. 21 Februari 2012 11:48

    Lupa lupa ingat, itu lirik lagu apa ya mas mandor? keknya aku kenal tapi ya lupa *halah* hihihi… ditunggu kelanjutannya ah, dan mau baca cerita sebelumnya dulu, bacanya mundur he he

    mandor
    kalau orin pernah denger penyanyi Frente dengan judul lagunya Bizare Love Triangle
    hahahaha kisah cinta segitiga yang aneh

  9. onesetia82 permalink
    3 Maret 2012 14:53

    baru segitiga aja udah repot tapi sepertinya akan lebih repot lagi kalau segi enam …🙂

    mandor
    lha ya itu masalahnya, saya gak mau mau lagi deh cinta segi banyak xixixixi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: