Skip to content

Pertanyaan menjebak

7 November 2011

Pertanyaan, pasti ada. Baik dari pimpinan, rekan kerja maupun bawahan. Bahwa ada hal-hal yang harus diberikan penjelasan terkait hal yang sedang terjadi.
Pertanyaan tentang apa, mengapa, siapa, dimana, kapan, serta bagaimana adalah pertanyaan yang lazim untuk menjelaskan suatu kejadian. Layaknya wartawan, pertanyaan-pertanyaan akan muncul untuk kemudian dirangkum dalam suatu laporan yang komprehensif yang menjadikan pencerahan bagi semua pihak yang berkepentingan.
Sebentar, saya bernafas dulu karena bahasanya terlalu tinggi, melangit. Gak mudah dimengerti. Saya aja sampai pusing menuliskannya.

Memang tidak dipungkiri bahwa dalam menjalankan sebuah usaha atau ikut mengurusi sebuah pabrik seperti saya, akan banyak mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab. Ada pertanyaan-pertanyaan yang bisa dijawab dan ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Pertanyaan yang bisa dijawab karena sesuai fakta yang terjadi di lapangan, sedangkan pertanyaan yang tidak bisa dijawab adalah pertanyaan ambigu, retoris, kontradiksi dengan fakta di lapangan. Pengalaman saya bekerja di pabrik, ada beberapa pertanyaan yang bukan hanya susah dijawab namun malah menjebak penjawab. Saya akan memberikan contohnya 3 saja sebagai berikut.

1. Apakah hanya itu
Saya mendapatkan cerita ini dari milis. Pada meeting tahuan, CEO datang dalam meeting dengan para direkturnya. CEO ini adalah pemimpin yang ditakuti oleh direktur-direktur yang dipimpinnya. Setelah acara presentasi selesai, CEO pun bertanya kepada direktur dengan pertanyaan legendarisnya: “Apakah hanya itu kemampuanmu?”
Sebuah pertanyaan yang susah dijawab bukan. Lebih tepatnya adalah pertanyaan menjebak. Jika dijawab iya, maka akan ada statemen lanjutan dari CEO akan menyulitkan posisi Direktur tersebut. Penilaian CEO terhadap sang Direktur akan menjadi buruk. Jika dijawab tidak, pertanyaan lanjutan yaitu “Mengapa anda tidak bekerja dengan performa terbaik anda selama ini?”
Dan sepertinya pertanyaan model ini diadopsi oleh pimpinan pabrik. Rekan-rekan saya sudah hafal dengan pertanyaan model begini. Hasilnya? Jawaban yang muncul bukanlah suatu resolusi, action plan, atau ide-ide segar untuk pengembangan di masa depan melainkan jawaban untuk menyelamatkan diri, menghindari “bola panas” agar tidak terkena sasaran kemarahan pimpinan. (Pimpinan saat itu juga sedang dimarahi oleh pimpinannya xixixi)

2. Mengapa tidak
Menanyakan kejadian yang sudah terlewat di masa lalu namun masih menuntut agar kejadian tersebut tidak terjadi. Padahal kejadian tersebut sudah terlewat, terlebih lagi sebuah kesalahan, akan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi yang mungkin hanya mampu untuk didengar saja. Sebagai contoh :

“Mengapa anda tidak melakukan analisa kegagalan produk ini?”

“Mengapa anda tidak tahu?”

Kedua pertanyaan di atas adalah pertanyaan menjebak. Jawaban apapun yang diberikan pasti salah. Melihat dari pertanyaannya saja sudah pasti tujuan dari penanya bukan mencari jawaban, melainkan untuk menyalahkan. Kalaupun dijawab dengan argumen dan alibi yang sesuai fakta pun akan dianggap melawan pimpinan., nah lo.

3. Jadi? Jadi? Jadi?
Pada dasarnya pertanyaan ini adalah meminta kita untuk menyimpulkan apa-apa yang sudah kita paparkan. Pertanyaan “Jadi …” yang menggantung itu agar kita melanjutkan sesuai dengan paparan yang sudah kita jelaskan. Namun kerap kali jawaban kita tidak memuaskan penanya.
Kalimat “Jadi?” itu kadang berulang lebih dari 3 kali. Bagi mereka yang tidak menyadari akan hal ini, akan berusah mengeluarkan seratus kalimat yang bisa memuaskan penanya. Tapi bagi yang cepat tanggap, pertanyaan ini adalah jebakan. Sebab kita kita harus mengucapkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang sedang dipikirkannya. Aneh kan, kita diharuskan untuk membaca pikiran penanya. Memangnya dukun?
Pernah saya mendapatkan kata “Jadi …?” itu hingga lima kali. Maka pertanyaan yang terakhir itu saya teruskan dengan “Maunya bapak apa?” Baru kemudian dia mengutarakan maksud dari pertanyaannya. Yang tentu saja berbeda dari apa-apa yang saya utarakan sebelumnya.

Rekan-rekan, punya pengalaman lain? Monggo silakan di share pertanyaan jebakannya.

17 Komentar leave one →
  1. 7 November 2011 17:01

    lha.. emang saya ga tauuu…. jangan ditanyaiinn heheh…

    salam, mandor..
    selamat ied adha

    mandor
    Pokoknya TM kamu harus tahu kenapa ini terjadi! Saya tidak mau tahu, Cari tahu sana!😀
    Selamat idul Adha, terima kasih

    • 7 November 2011 17:03

      sama kagak tahu jg hehehe..
      Selamat sore mas mandor..

      mandor
      Kenapa sampai tidak tahu? Ngapain aja kamu di sana? BIsa kerja gak sih?

      Cari tahu sekarang … Selamat sore!

  2. 7 November 2011 17:53

    Angel.. *pertanyaannya😛

    mandor
    jiahahaha lha kok malah angel pertanyaannya
    Memang pertanyaan di atas bukan untuk dijawab, tetapi disiasati

  3. 7 November 2011 17:56

    jadi apa ya pak?🙂 ketauan gak ngerti nih yang komen

    mandor
    jadi … dirimu harus membaca pikiranku😀

  4. 7 November 2011 18:13

    manteb tenan tulisan ini pakdhe. jadi kalo kita dikasih pertanyaan yang menjebak gimana? langsung tembak saja? sampeyan njebak apa gimana? keplaki sisan!:mrgreen:

    mandor
    Nembak saja … Lek wani
    Sayangnya saya bukan tipe orang yang bandel, ngelawan sama pimpinan. Tapi kalau pas benar-benar kepepet apa daya jurus “nembak” pun dikeluarkan

  5. 7 November 2011 21:48

    Walah, ini ilmu buat saya.:mrgreen:

    mandor
    hahhahaha coba saja kasih pertanyaan macam begini ke orang-orang atau bawahan sampeyan. Gimana reaksinya😀

  6. 7 November 2011 22:26

    jadi….? jadi?….jadi??….
    ini cuma 3 kali lho Pak Mandor tanya nya , jadi gak menjebak khaaan?😛
    salam

    mandor
    Masalahnya saya harus merangkai kata sebanyak 3 kalimat untuk menjawab itu. Kalau terima ya sudah, kalau masih gak terima, akan saya kerjakan jawaban saya yang pertama xixixixixi

  7. 7 November 2011 22:27

    wah, ternyata begitu toh ya,kalau bos kena marah oleh bosnya, malah kita dikasi pertanyaan aneh, sampai diharapkan jadi mind reader segala? hedeh…hedeh….
    ini sih asli bisa bikin kliyeng2 yg ditanya😦
    salam

    mandor
    sudah menjadi rahasia umum. Atasan yang sering marah-marah itu biasanya baru saja kena marah oleh bosnya. Makanya tidak jarang pertanyaan aneh itu muncul hanya sekedar untuk melampiaskan rasa hatinya sendiri.

    Terima kasih bunda telah datang ke blog ini

  8. 7 November 2011 22:50

    Hmm… mungkin saya kerap terjebak nih…😀
    #terlalu lugu😆

    mandor
    whaaa …. lain kali jangan mau disuruh menjawab pertanyaan jebakan kayak gini

  9. 8 November 2011 06:07

    thanks share nya, jeli dan sekaligus menggelitik, hehe

    mandor
    terima kasih tulisan saya bisa menjadikan pengetahuan baru bagi anda

  10. 8 November 2011 13:40

    Kalau bagi saya, orang2 yang memiliki pertanyaan bersayap bukanlah seorang cerdas karena sebenarnya udh punya tujuan sebelum bertanya. Seingat saya sih, belum pernah mengalami seperti itu…(atau karena ga pernah punya urusan langsung dengan para petinggi kali yah??)

    mandor
    pertanyaan bersayap … istilah baru yang keren itu mas Necky. Nanti akan saya pakai ah di pabrik, biar saya kelihatan gaul gitu.

  11. 8 November 2011 15:34

    rasa ingin tahulah yg membedakan antara pemimpin dengan bawahan..🙂

    mandor
    rasa ingin tahu itu baik
    Masalahnya adalah jebakannya, justru akan menghilangkan esensi dari pertanyaannya itu

  12. 8 November 2011 16:41

    Kalo saya ditanya begitu: “jadi…?”
    Saya jawab aja: “ya jadi dong, Pak. Mosok nggak jadi…”

    Kira-kira saya akan naik gaji nggak ya, Le Mandor?

    mandor
    Ya kira-kira pimpinan tambah jengkel, ngomelnya bertambah 1 jam setengah lagi
    Begitulah kejadian yang bisa saya prediksi😀

  13. 9 November 2011 19:05

    bener banget tuh,pertanyaan jebakan. saya juga menemukan solusi dari postingan di atas, yaitu balas kasih pertanyaan yg kurang lbh sama atau berupa desakan “maunya apa” :D…trims

    mandor
    hahaha memang kadang pertanyaan model di atas itu harus segera dibalas agar tidak berlarut-larut pertanyaan dan penjelasannya

  14. 10 November 2011 20:07

    wah menjebak juga yah, hehe iya bagus juga tp solusinya

    mandor
    memang kebanyakan begitu. Tidak banyak mereka yang benar-benar bertanya, maunya minta pertanggung jawaban atas apa yang terjadi

  15. 15 November 2011 15:39

    Saya pernah mengalami ampek gembrobyos njawabnya. Untung baru “jadi” yang kedua si boss langsung puas, “Naahhh, itu maksud saya! Susah amat sih?”

    Gubrak! Nek gak inget kuwi boss wis tak balang selop!

    mandor
    mbok ya langsung dibalang selop wae.
    Memang siapa sih yang bisa membaca pikiran, kalau bukan dukun?

  16. 23 November 2011 16:00

    Kalau kata bapakku, boss atau pimpinan itu dibayar untuk marah, marah, dan marah. kalo gak bisa marah, gak bakalan bisa jadi boss😀
    Termasuk untuk mengajukan jebakan itu kali ya. Lain kali arep takgawe ngge njebak nek ngunu hehehehe (kebalik yak…)

    mandor
    lhaa kok gitu ya, bos dibayar hanya untuk marah. Bisa bubar anak-anaknya kalau gitu. Tapi memang pada kenyataannya begitu, bos marah-marah dan anak buahnya tetap setia, halah.
    Sekarang malah gantian, tulisan saya ini dipakai untuk menjebak, waduh … salah tulis ini sayanya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: