Skip to content

Menulis rasa hati

2 September 2011

Harus kau tahu Wahai perempuanku
Aku takkan pernah lari darimu
Tak pernah terlintas sedikitpun langkah menjauh
Aku masih di sini, berdiri di sini
Merenda kata cinta sebait demi sebait

Setiap hari ku hanya bisa berkata pada Desir angin
Bercengkrama
Dan mungkin besok akan kuulangi lagi
Menuliskan tentang rasa hati
Dengan berkata namun tak nampak
Dengan melihat namun tak berjejak

Ku tau gelap hingga segelap apapun, desir angin akan datang
Bisiknya mengendap-endap di pinggir telinga
Terkadang ingin sekali mendengarmu
Ingin sekali membuat dirimu bicara semaumu
Melihat bibir mungilmu terus mengeluarkan kata

Waktu dan jarak telah memisahkan kita, berlalu tanpa hitungan
Tak pernah bertatap wajah di bawah teduh, seperti waktu dulu
Kenangan yang sekali-kali datang menyapa, Rindu!
Apakah ini rindu? Atau hanya bayang di bawah remang-remang
Kadang hati bertanya, bisakah rindu ini menemukan jalannya

Hampa hati telah terkubur oleh rindu ini
Wahai perempuanku, engkau Keindahan
Engkau memberi ribuan warna pada dinding hati yang kosong
Bagai seribu pelukis yang menorehkan raga
Dan biarkan aku mencintaimu dengan cara yang mudah
Mencintaimu dengan sederhana, dengan indah
Tanpa ada janji-janji kata melimpah

Menikmati cinta tidak hanya selembar
Hindarkan aroma rasa bosan dan hambar

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: