Skip to content

Limbah elektronika: Peraturan yang jelas

2 September 2011

Permintaan saya sederhana, anda tidak perlu menyebutkan rupiah namun hanya menyebutkan angka saja. Coba lihat sekeliling anda saat ini, ada berapa barang elektronik yang tertangkap oleh mata saat ini, di sekeliling anda sekarang?
Hingga jari-jari tangan tidak cukup untuk menghitungnya, sungguh banyak sekali. Bahkan seluruh aspek kehiduan kita pun selalu tersentuh dengan peralatan elektronika, tidak bisa lepas sedikitpun.

Sebagai perbandingan saja, tuner untuk penangkap sinyal televisi diproduksi sebanyak 21 juta* unit per bulan. Artinya bahwa untuk televisi set paling tidak, diproduksi dengan jumlah yang sama dengan jumlah tuner yang ada yaitu 21 juta unit per bulan di seluruh dunia dengan berbagai merek. Itu hanya untuk satu jenis alat elektronika televisi, belum alat-alat yang lain. Bisa dibayangkan bumi kita ini ramai dengan peralatan elektronika yang semakin hari semakin canggih.
Satu hal yang pasti, selalu ada yang baru yang lebih canggih, yang lebih keren dan lebih memudahkan manusia. Terus produk yang lama kemana? Dibuang? Pernahkah anda membayangkan apa yang akan diperbuat dengan tumpukan sampah elektronika seperti ini?

Kalaupun sampah elektronika itu dibakar, abu sisa pembakaran sampah elektronika seperti di atas mampu membunuh seekor ikan dan meracuni tumbuhan. Ada yang nyeletuk “Kan bisa dijual kiloan pak?”
Saya berani memastikan bahwa pembaca sebagian besar tidak yang tahu apa yang harus dilakukan dengan tanda seperti ini.

Sampah elektronika seperti di atas sedikit banyak mengandung bahan-bahan berbahaya yang akan mencemari lingkungan. Beberapa contoh kandungan bahan berbahaya dalam peralatan elektronika sangat merusak lingkungan dan berbahaya bagi manusia antara lain:

Timbal (Pb). Kandungan timbal pada peralatan elektronika sering terdapat pada timah solder. Jika solder mengandung lebih banyak timbal (Pb) maka penampakan hasil solder akan mengkilat dan menarik. Untuk mengurangi kandungan dalam timah ini diperlukan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu penggunaannya harus dibatasi karena tidak mungkin menghilangkan timbal dalam timah solder secara total.
Cadmium (Cd). Penggunaan cadmium kebanyakan pada batere namun tidak menutup kemungkinan komponen-komponen lain yang menggunakannya. Cadmium digunakan karena sifat elektrovalensinya yang kuat dan tahan lama sehingga memunculkan tegangan batere yang lebih besar daripada material lain.
Mercury (Hg). Ada yang menyebut material ini sebagai air raksa. Apapun sebutannya, material ini dipakai karena sifatnya yang tahan panas terhadap paparan yang lama dan sedikit sekali perubahan nilai komponen terhadap panas.
Cromium Hexavalent (Cr+6). Cromium Cr+6 ini juga sebagai salah satu bahan untuk menarik perhatian karena bentuknya yang membuat komponen tampak bagus. Selain itu ketahanan terhadap arus listrik sangat bagus dibandingkan dengan bahan yang lain.
Halogen (H). Halogen merupakan salah satu material yang tahan panas. Sebelumnya bahan ini tidak ada larangan namun karena sifatnya yang memicu kanker (karsinogenik) maka sekarang sudah ada peraturan yang membatasi penggunaannya.

Dari material-material yang saya sebutkan di atas sebenarnya masih banyak lagi material yang membahayakan lingkungan namun masih dipakai pada komponen elektronika. Namun begitu peraturan-peraturan yang membatasinya akan terus berkembang.

Di Indonesia ini limbah elektronika masih diberlakukan sebagai limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Padahal kalau ditilik lebih lanjut, penanganan limbah elektronika seperti ini harus melalui pengolahan limbah yang benar sehingga tidak mencemari lingkungan. Perlakuan sebagai limbah B3 masih terlalu umum sehingga perlu dirumuskan secara detail.
Dari pengamatan saya, perusahaan-perusahaan elektronika di Indonesia sudah menerapkan pembatasan kandungan material. Terutama perusahaan dengan orientasi pasar ke negara-negara Eropa, sudah pasti mengikuti peraturan Pb free dan RoHS karena setiap produk elektronika akan dilakukan testing oleh organisasi RoHS tersebut.. Jika terbukti tidak memenuhi persyaratan maka akan ada denda dan barang harus dikembalikan.
Coba kita perhatikan, Indonesia ini adalah surganya barang-barang elektronika. Segala macam merek ada. Mau yang harga mahal, hingga harga warung kopi ada. Anda mau minta produk dari apa asal negara mana pasti akan diusahakan. Mirisnya adalah tidak ada kontrol terhadap kandungan bahan yang ada di dalam bahan elektronika tersebut. Barang dikirim dari pabrik di luar negeri, turun dari kapal langsung diangkut ke berbagai tempat pemesan. Orang hanya sibuk mempermasalahkan surat-surat legalitas dan pembiayaan, belum pada dokumen kandungan material karena kandungan material berbahaya bagi lingkungan masih tidak begitu penting di Indonesia ini.

Kalau antar perusahaan elektronika di Indonesia sudah menerapkan pembatasan bahan berbahaya melalui peraturan masing-masing. Hal ini dilakukan agar ada sebuah alat kontrol pada material yang ramah terhadap lingkungan. Namun untuk Pemerintah Indonesia saya belum melihat adanya kontrol seperti itu. Barang-barang elektronik dari kapal masuk ke Indonesia langsung menuju pasar, ke toko pengecer.

Oleh karena itu, melalui tulisan saya meminta kepada Pemerintah Indonesia,
pertama : menetapkan suatu peraturan yang mengikat kepada seluruh produsen elektronika yang barangnya beredar di seluruh wilayah Republik Indonesia. Peraturan tentang batasan penggunaan bahan-bahan berbahaya sehingga barang-barang tersebut jika sudah tidak terpakai tidak mengotori lingkungan dan berbahaya bagi manusia.
kedua : Menunjuk, memerintahkan, menetapkan organisasi yang bergerak di bidang pengolahan limbah yang khusus untuk penanganan limbah elektronika. Organisasi ini juga bertanggung jawab terhadap laporan jumlah limbah elektronika seluruh Indonesia dan bertanggung jawab terhadap edukasi masyarakat tentang limbah elektronika.

——————————
* Data pribadi

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: