Skip to content

Lelaki itu, hatinya berdarah

2 September 2011

Entah apa yang harus kukatakan kepadamu kali ini. Sudah lama tidak ngobrol lewat telepon akhir-akhir ini. Namun ketika kamu telepon pasti bakal panjang, lama. Aku sih gak masalah, yang masalah ada di kamu, pulsanya habis banyak. Sayang kan beli pulsa hanya habis untuk sekali telepon kepadaku.

Tapi aku kangen!

Teleponku benar-benar berdering dengan nama Ayumi

“Halo.” jawabku

“Hai cowo, godain kita dong?”

“Pake godain segala, sini kalau mau hihihi”

“Beraninya begitu doang … “ Jawabnya senang

“Eemm … Gimana liburan awal bulan ?” tanyaku

“Namanya juga kerja di supermarket. Gak ada libur hari sabtu minggu. Apalagi awal bulan, itu orang sedang seneng-senengnya pegang uang. Saya harus jaga.” Jawabnya menjelaskan

“Gak bisa istirahat dong?.” Tanyaku kembali

“Untung saja teman-teman ada yang mau diajak kerjasama bagi tugas, jadi masih bisa main hari sabtu.”

Iya, perempuanku ini sudah bekerja pada sebuah supermarket yang cukup ternama di kota ujung Jawa Barat, Cilegon. Dia sudah merantau sendiri keluar dari desa asalnya mengadu rejeki di kota Jakarta sejak lulus sekolah. Beberapa kali dia sempat berpindah tempat di sekitaran Jakarta hingga sampai pada kota kali ini, Cilegon. Tempat aku bertemu dengannya pertama kali, saat aku magang kerja di pabrik baja terbesar di Cilegon itu.
Sedangkan Aku sekarang? Masih berkutat dengan penyelesaian tugas akhirku yang tidak kunjung selesai. Makanya sering dilema dan penolakanku menerima telepon hanya karena perbedaan status ini, dia sudah kerja saya masih sekolah. Biaya telepon mahal, pulsa kan mahal sedangkan aku tidak pernah telepon balik. Biasanya hanya komunikasi lewat SMS saja dan itulah yang saya inginkan.

“Ya yang penting kamu bisa jaga diri dan jaga kesehatan saja. Aku gak pengen kamu sakit. Masih inget kamu sakit pusing sampe mata belo karena belain SOP ngitung barang hingga larut malam. Aku gak pengen kamu seperti itu lagi!”

“Iya iya saya tahu. Sekarang sedang bagus-bagusnya penjualan. Saya harus bisa ngatur orang agar bisa mendapatkan target penjualan bulan ini. Kan lumayan bonusnya bisa buat main, jalan-jalan.” Jawabnya merajuk.

”Berarti bulan besok bakalan dapet penghargaan lagi dari pusat dong.”

”Ya ndak begitu lah, Saya harus terus semangat memacu kinerja dimanapun saya ditempatkan. Saya ingin membuktikan kepada pusat bahwa saya mampu dan stabil dimanapun saya berada.”

”Wah, salut sekali.”

”Jadi gimana dengan perkembangan kaka?”

”Perkembangan apanya?”

”Katanya masih masih ngerjain skripsi, sekarang sudah sampai mana?”

”Oo itu, minggu kemarin sudah dapat jadwal untuk seminar proposal pengerjaan skripsi. Proposal sudah siap, jadwal seminar juga sudah ditentukan. Tinggal menunggu waktu aja sembari persiapan pengerjaan langkah berikutnya.”

“Proposal? seminar? Itu apa … kalo ngomong mbok ya jangan tinggi-tinggi. Saya kan gak ngerti ka.”

”Ah iya, maap maap. Proposal seminar itu semacam presentasi bakal skripsi yang akan saya kerjakan. Jadi harus dipresentasikan dulu di hadapan dewan dosen dan beberapa rekan yang mempunyai bahasan yang sama.”

“Presentasi itu apa? Jangan membuat saya makin bingung begini?”

“Presentasi itu artinya pemaparan. Sudah … ngerti ?”

“Oo… mau ngomong pemaparan bakal skripsi aja pake mbulet segala”

“Iya maap …” Jawabku lemas

”Hihihi, tetap semangat ya dalam mengejar mimpi kaka itu. Terus belajar jangan menyerah. Saya berdoa selalu di sini untuk kesuksesan kaka menyelesaikan sekolah.”

Begitu indah kata-kata Perempuan Desir Angin itu, memberiku semangat untuk segera menyelesaikan tugasku kali ini.

”Aku pengen ngomong sesuatu ke kaka. Tapi gimana ya”

”Ya udah ngomong aja apa, saya dengerin kok.”

”Takut kaka marah”

Terdiam beberapa saat … daripada menghadapi kekakuan mungkin lebih baik aku mengambil inisiatif ngomong aja.

“Eh iya kemarin main kemana?”

“Saya main ke pantai Carita, dari sini kan deket. Perjalanan tidak sampai 30 menit sudah nyampe. Weekend apalagi awal bulan ternyata rame juga pantainya”

”Wah asyik dong. Main sama siapa?”

Mendadak kamu terdiam lebih lama. Ada sesuatu yang aneh, tidak biasanya seperti ini. Kamu tidak biasanya terdiam tanpa kata seperti ini. Ada sesuatu yang kamu sembuyikan meskipun lewat telepon. Aku bisa merasakannya.

“Aku memang gak bisa bohong sama kaka, aku gak bisa menyembunyikan ini selamanya. Setiap waktu selalu terpikirkan … Ak .. aku … aku maen sama Ray.” Jawabnya mendesah, takut

Deg, jantungku mendadak sakit seperti tertusuk ribuan jarum. Seketika terluka.

“Sendiri?!” tanyaku tidak sabar.

“Iya, berdua berboncengan naik motor”

Kepala seperti terhantam palu godam, hati hancur berkeping-keping.

“Kamu!”

“Ka … ka … tunggu penjelasanku dulu”

“Tidak … Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kamu sudah tidak menjaga cinta yang telah kuberikan kepadamu.”

“Tidak ka, bukan begitu ka, kaka harus dengarkan dulu…”

“Tidak ada yang harus didengar kali ini! Kamu tahu gak, itu artinya kamu sudah menduakan aku. itu artinya kamu membagi cintamu. Dan aku tidak terima!”

Aku terdiam dengan kata terakhirku itu. hening. Terdengar isak tangis di seberang sana, sebuah tangis yang aku sendiri tidak tahu apa artinya kali ini.

Berselang menjelang, hanya terdiam saling mendengar nafas masing-masing, dia masih tetep menangis dan membiarkan hubungan telepon terus berjalan, berputar menggerus pulsa.

Harus segera diakhiri percakapan ini, menunggu terus seperti ini hanya akan menghabiskan pulsa tanpa ada sepatah kata pun keluar.

Klik! telepon kututup. Dia juga tidak menelpon kembali.

Apa maksud dari semua ini? Siapa lagi Ray?

Tidak bisa
Tidak bisa begitu wahai perempuanku
Cinta itu tidak bisa dibagi dengan cara seperti ini
Aku harus menemuimu sekarang juga, ke kota tempatmu berada saat ini
Kamu harus menjelaskan semua ini, bukan lewat telepon

Kusiapkan tasku, beberapa baju dan sepatu. Sebuah scarf bermotif batik aku selipkan di sela-sela tas. Mungkin nanti bisa berfungsi sebagai penutup leher atau penutup mulut atau bahkan sebagai ikat kepala. Ah, nantilah diperjalanan akan kelihatan fungsinya.
kulirik jam menunjukkan pukul delapan lewat, matahari sudah bersinar terik. Kuhitung-hitung perhitunganku, aku harus sampai di surabaya jam 11 baru kemudian cari kereta tujuan Jakarta kemudian disambung lagi perjalanan ke Cilegon esoknya.
Sekolah? ditinggal dulu aja karena Tugas akhir tidak membutuhkan berkunjung kampus yang intens.
Di Cilegon? Halah, langsung ke rumah bos dulu tempat magang, pasti boleh menginap barang seminggu atau 2 minggu.
OK beres, rencana sudah tertata wahai Perempuanku Desir Angin

Cinta, mengapa kau begitu mengaduk-aduk rasa hati

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: