Skip to content

Kutunggu mataharimu

2 September 2011

Pada sore yang beranjak malam, duduk di atas bukit kelam
Menatap nyaris tak berkedip bentangan langit bertabur bintang
Sepi merayap
Aku menghela nafas sendiri disertai desir-desir angin menerbangkan ilalang
Duduk di atas bukit, di atas kerlap-kerlip lampu pabrik yang bersahutan menyala
Di sebelah, kekasih rebah dalam buaian rumput lembut, hatinya resah
Rubuh di peraduan dengan perasaan remuk redam

Malam ini saat terakhir kita bersama
Esok pagi engkau akan meneruskan langkahmu mengejar matahari

“Lihatlah bintang-bintang di langit itu, ka”
“Serasa berantakan sekali”
“Kuingin menatanya kembali, teratur”
“Begitu juga hatimu saat ini ka, hancur”
“Biarlah aku menatanya kembali kepingan – kepingan tajamnya”
“Meski tanganku berlumuran darah karenanya”

Suaraku memecah sunyi tipis
kau menganggap seperti halilintar, mencekam
Namun tak membuatmu beranjak dari rebahmu

Hening,  jeda panjang

“Apakah perempuan selalu ingin menata puing-puing yang sudah terserak?”
“Aku berperang melawan takdirku sendiri dari lembah yang curam”
“Meski sekarang aku mampu bertahan, aku terluka, parah, terkoyak”
“Luka memanjang sekujur badan”
“Dan besok aku harus berperang kembali”

Begitu katamu
Sesosok sorot di balik kacamata meradang
Bintang-bintang membisu
Ketika kalimat itu meluncur pelan

Tak pernah ku memintamu membawakan barangku, di pojok toko itu
Dan ketika kau terpana wajahku yang letih, itu memang diriku
Tak usah kau sesali perjumpaan waktu itu
Hidup juga persimpangan setiap saat
Kalau bukan di pojok toko itu, mungkin di sudut yang lain
Sudut-sudut simpang tiga, Cilegon

Tak pernah ku berharap kau menjemputku malam itu
Aku sudah cukup berjalan sendiri di bawah bintang-bintang itu setiap hari
kau bilang aku tak berhak diselimuti angin malam
Bintang, angin malam, deru angkot menjadi sahabatku setiap malam

Tak pernah ku bermimpi waktu kau segelas tawarkan es teh segar
Senyummu jauh lebih meneduhkan dibanding air yang ada
Mungkin kau tak tahu betapa aku terpana ketika tanganmu mengulur kepadaku
Lembut, membutku terbang selembut awan

Tiada yang salah dengan rasa ini, buka dirimu, bukan pula diriku
Kita berjumpa lalu saling bertukar rindu
Ada denting-denting melodi harmoni di hatiku setelah kau petik dawai-dawainya
Lewat tatapanmu yang teduh
Lewat ceriamu yang lepas

Tentu bukan pintaku kalau benih-benih ini lantas tertabur
Kembang bermekaran, daun – daun baru bermunculan
Pucuk-pucuk dihinggapi embun berkilauan
Mengiringi pagi kehidupan bersama awan

Tetapi belum genap satu purnama, kenapa kau lekas pergi
Aku tak pernah memintamu untuk tinggal
Aku hanya mengharapmu singgah lebih lama
Biarlah bungaku tumbuh dulu
Terlalu berlebihankah permintaanku ?

Cinta barangkali memang tak pernah ada, Tapi bisa kita rasakan
Seperti desir-desir angin, kita bisa menikmati setiap hembusannya
tapi tak pernah berhasil menggenggamnya.
Waktu berhenti, malam tak juga beranjak pagi.
Burung-burung kehilangan kicauan merdu.
Dan padang rumput ditinggal wangi tanah.

Penantianmu di setiap dini hari
Menunggu tuk mengejar matahari kembali, memburu cerah hati
Membuatku ditikam sepisau sepi.

Kehangatan yang telah kita rajut bersama, saat ini membeku
Hamparan salju yang tercipta oleh perasaan sedu
Aku perempuan tak bisa mencegahmu untuk terus berlari
kau lelaki, kurelakan kau pergi saat ini
Kubekukan hatiku, menunggumu membawakan mataharimu

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: