Skip to content

Gudang limbah

2 September 2011

Hari kamis ini beranjak malam, masih banyak tugas yang harus diselesaikan sebelum pulang. Laporan-laporan harus dilengkapi sebagai resume kerja minggu ini untuk dievaluasi pada meeting besok. Yang namanya evaluasi artinya harus siap untuk ditatar dengan pertanyaan – pertanyaan seputar permasalahan yang terjadi, mengapa begini mengapa begitu. Untunglah sekolahku dulu mengajarkan untuk tahan banting terhadap pertanyaan rewel macam itu. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam, pekerjaan ini harus disudahi karena aku lebih sayang tubuh dan kesehatan daripada pekerjaan ini, harus pulang sekarang juga. Meja sudah kubersihkan,peralatan sudah dirapikan, komputer sudah dimatikan, telepon berdering.

“Halo ?!” saya menjawab

“Pak bisa turun sekarang juga! Gawat!”

“Ini siapa?”

“Satpam pak!”

klik, telepon langsung saya tutup dan aku langsung bergegas turun melalui lorong pabrik. Ada apa gerangan? tanyaku dalam hati sambil keluar pabrik. Sesampainya di luar pabrik, pak satpam menghampiriku dengan tergesa-gesa.

“Gudang limbah B3 terbakar pak!”
“Hah !!”


Hujan masih mengguyur rintik-rintik namun api malah membesar. Aku sempat panik untuk beberapa saat, dalam kondisi seperti ini semua orang pasti panik tidak tahu berbuat apa. Suasana gelap karena listrik sudah dimatikan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak ada senter, hanya kilatan-kilatan HP sebagai penerangan gudang.

“Saat ini kondisi darurat kebakaran, lakukan sesuai prosedur!” perintah saya.

“Baik pak!”

Sirene sudah dibunyikan, anak-anak berhamburan keluar, panik! Beberapa teman membawa APAR (Alat Pemadam Api Ringan) ukuran sedang maupun ukuran besar namun masih belum bisa menghalau api yang sedang melahap gudang limbah tersebut. Teman-teman yang lain mendekat ke arah kejadian, pertanyaan – pertanyaan bermunculan, celetukan dan kebingungan bercampur jadi satu dalam guyuran hujan.

“Kebakarannya semakin besar!” seru Ara

“Mana senter, mana senter?” tanya Satpam

“Lampu sorot itu kok gak dinyalakan?” kata sopir

“Ruang sampah itu …” seorang ibu berujar

“Penyebabnya dari konslet listrik ya ?” tanya teknisi

“ada apa ini, ada apa?”

Dalam batin, kok ada ya orang yang masih tanya, ada apa ini? pertanyaan bodoh menurut saya. Bukannya ikut membantu memecahkan masalah yang ada tetapi malah “ngrusuhi” saja. Sudah 10 menit APAR digunakan namun api tidak bergeming, tetap melahap limbah yang ada.

“PAKAI HYDRANT!” salah seorang berteriak memberikan komando

Dengan sigap seluruh karyawan dan pak satpam bekerja sama membuka kotak hydrant dan melakukan “fire fighting” untuk menjinakkan api. Selang dibentangkan, bagian depan dipegang  dua orang berbadan besar untuk menahan semburan air.

“Ayo cepaat, kok belum keluar sih airnya!?”

“Ini hydrant macet, sudah dibuka tapi gak nyembur” ujar seseorang yang berada pada hydrant. Utak-utik, menunggu, 1 menit berlalu, 2 menit, 5 menit belum keluar juga, semua orang berharap cemas.
Jooosss … air menyembur dengan tiba-tiba dari ujung selang, tekanan 8 bar ternyata cukup kuat, untung saja dua orang di ujung selang sigap, hanya oleng sedikit kemudian menstabilkan diri mengarahkan air ke api di dalam gudang.

Setelah 10 menit api yang berkobar-kobar itu sudah dapat dikuasai dengan Hydrant. Asap masih mengepul dengan pekat di dalam keremangan malam, ternyata masih ada bara di dalam tumpukan puing-puing kebakaran. Air terus disemprotkan ke dalam gudang sambil beberapa orang membongkar timbunan puing-puing untuk mematikan bara api yang ada.
Alhamdulillah api dan bara sudah bisa dipadamkan dalam waktu 1 jam. Beberapa orang melakukan analisis dan identifikasi penyebab terjadinya kebakaran. Aku memastikan kondisi gudang limbah sudah benar-benar padam dan aman kemudian memutuskan untuk pulang, benar-benar hari yang melelahkan.


Kondisi gudang pagi hari setelah kejadian.

——————————————–

Belajar dari kejadian pabrik kemarin, ada hal yang ingin saya sampaikan di sini tentang Penyimpanan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun : revisi penjelasan dari bunda untuk semua) yang bersifat sementara sebelum diserahkan ke pengelola limbah.

– Lokasi gudang terpisah dari bangunan utama atau bangunan lain.
Ketika terjadi kecelakaan, tumpahan atau kebakaran, maka fokus penanganan hanya pada ruangan tersebut. Kecelakaan diharapkan tidak merembet ke lokasi lain.

– Lokasi tidak dilalui listrik atau berdekatan dengan mesin yang sedang bekerja.
Sebagian besar limbah B3 mempunyai kecenderungan mudah terbakar. Demi keamanan maka lokasi harus dijauhkan dari hal-hal yang berpotensi menimbulkan api. Listrik dan dan mesin yang sedang bekerja sangat rentan terhadap timbulnya api.

– Lokasi bebas banjir.
Beberapa jenis limbah B3 bereaksi dengan air, artinya ketika material tersebut terkena air akan menimbulkan panas atau terbakar.

– Lokasi tidak rawan bencana.
Penataan penyimpanan sangat diharapkan untuk benar-benar aman dari bencana sehingga ketika terjadi bencana tidak menimbulkan masalah yang baru dari gudang limbah B3.

– Lokasi di luar kawasan lindung.
Ketika terjadi kecelakaan, tumpahan atau polusi limbah akan mencemari lingkungan. Hal ini benar-benar dilarang.

– Mempunyai pit pengumpul.
Hal ini diperlukan untuk mengantisipasi terjadinya tumpahan sehingga hasil tumpahan terkumpul pada pit tersebut

– Lantai kedap dan landai ke arah pit pengumpul.
Berfungsi untuk mengatisipasi terjadinya tumpahan agar tidak melebar kemana-mana.

– Terdapat ventilasi yang baik
Membebaskan udara untuk sirkulasi uap limbah B3 di dalam ruangan untuk menjaga suhu dan kelembaban.

– Tersedia alat pengamanan
Alat pengamanan untuk gudang limbah B3 seperti pada umumnya yaitu APAR, pasir, Hydrant, masker, dll

– Simbol dan label
Pemasangan simbol dan label pada masing-masing limbah B3 berdasarkan kategori limbah. Simbol dan label yang terpasang sesuai dengan KepKa Bapedal No : 05/BAPEDAL/09/1995

– Penempatan material.
Penyimpanan limbah B3 yang sesuai dengan jenis, karakteristiknya pada tempat yang sudah ditentukan.
Karakteristik limbah yang dimaksud adalah :
1. Mudah meledak
2. Mudah terbakar
3. Barang yang menginfeksi
4. Reaktif
5. Korosif
6. Beracun

– Memenuhi persyaratan – persyaratan dokumentasi
Memiliki Standar Operasioanl Prosedur (SOP)
Memiliki Emergency Response System (ERS)
Memiliki Ijin penyimpanan sementara

Sekian postingan kali ini, jika ada yang bisa ditambahkan saya akan berbesar hati menerimanya.

Selamat hari Jumat, semoga bermanfaat.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: