Skip to content

Cinta untuk kehidupan

2 September 2011

Kudapati tubuhku sudah bergerak bersama Kereta Kereta Gaya Baru Malam Selatan. Namanya keretanya ada malamnya tapi berangkatnya jam 12 siang! Sebuah keanehan kereta yang tidak perlu dipikirkan lebih lanjut. Aku berangkat dari Surabaya menuju Jakarta. Memilih berangkat dari awal start kereta, Stasiun Semut, agar mendapatkan tempat duduk. Bukan rahasia lagi, kereta api ini adalah kereta rakyat, hanya dengan harga tiket yang sangat murah sudah bisa pergi ke Jakarta. Sudah barang tentu, harga murah maka jangan harap ada kenyamanan. Mendapatkan tempat duduk di awal start berangkat adalah kenyamanan yang harus diperjuangkan untuk mengatisipasi berebutnya penumpang akan tempat duduk ini. Alhamdulillah aku mendapatkannya di stasiun Semut.

“Kamu harus menjelaskan semua ini Say” Gumamku dalam hati. ”Apakah kamu sudah berpaling hati. Apakah kamu sudah punya cinta yang lain?”. Pertanyaan-pertanyaan itu menghujam hatiku bertubi-tubi. Mengapa dirimu tega berbuat itu. Apakah karena aku sedang jauh? Apakah karena aku belum pasti lulus? Bekerja? atau apa?

Sepanjang perjalanan tergambar hamparan sawah. Ya, kereta jalur selatan memang didominasi melalui area persawahan. Lambat laun semua pikiranku dipenuhi dengan bayang-bayangmu tentang kenangan masa lalu. Saat aku merebahkan diri di atas bukit dan kau duduk memunggungiku sambil menikmati rangkaian bintang di langit. Memandang cakrawala yang berbatas dengan laut.
Langit cakrawala itu, membawaku ke dalam, menyusuri hari yang beranjak malam. Bersama para penumpang kereta yang berjubel. Bersama para pedagang asongan yang berteriak-teriak. Bersama pengamen bencong dengan bonus goyang genitnya. Aku tertidur dalam buaian kenangan.

***
Sesampai di stasiun Pasar Senen hari juga menunjukkan siang. Benar-benar sebuah perjalanan yang panjang. Hampir 20 jam aku berada dalam kereta. Badan terasa tidak karu-karuan. Seperti robot yang gerakannya kotak, leher, punggung, tangan dan kaki terasa kaku semua. Pilihan pertama setelah turun dari kereta adalah mandi di stasiun. Mandi adalah salah satu pengobat tubuh dari rasa pegal-pegal yang menyerang. Mengusir aroma kereta yang masih melekat pada tubuh.

Perjalanan berikutnya adalah mencari bis dengan jurusan Merak. Tidak sulit bagiku untuk mencari bis ini. Langsung saja kutemukan dan bersiap untuk berangkat ke Cilegon. Perjalanan di jalan tol semakin membuat hatiku berdebar. Jarak antara aku denganmu semakin dekat. Setiap kilometer yang terlewati semakin membuatku gelisah. Apa yang akan kukatakan nanti? Hati menjadi bimbang antara meminta penjelasan dengan rasa kangen yang selama ini terpendam. Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa rindu ini masih meliputi hati. Berbagai rasa beradu di dalam hati. Mana yang harus dipilih.

Matahari masih memancarkan panasnya. Tanah ini tetap tidak berubah, gersang. Roda bis sudah menggilas jalan raya Cilegon. Beberapa saat lagi jalan simpang akan terlihat. Aku berdiri dari tempat duduk menuju ke depan, bersiap turun.

”Turun simpang pak” kataku pada kenek bis.

”Iya mas, di depan sebentar lagi” Jawab kenek.

Pak sopir sudah mengerem, bis sudah menghentikan jalannya untuk mempersilakan aku turun. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada pak Sopir dan kenek. Aku melompat ke trotoar dan melanjutkan perjalanan. Sedangkan bis yang kutumpangi sudah melanjutkan perjalanannya ke Merak.

Di simpang ini. Sekitar 6 bulan yang lalu aku menginjakkan kaki di tanah ini. Memulai sebuah anyaman cerita tentang kehidupan. Bersama dengan tumbuhnya sebuah cerita cinta dengan dia. Kali ini aku menginjakkan kaki lagi di simpang ini namun untuk sebuah cerita yang lain. Apakah anyaman cerita ini akan bersambung atau berpola lain. Ahh, biarkan cerita ini bergulir sesuai dengan jalannya, aku tidak akan memaksanya lagi.

Di depan sebuah mall yang gagah aku masih ragu untuk memasukinya. Dia kerja di dalam. Aku tidak tahu apakah sekarang dia sedang kerja atau di rumah. ”Harus! bagaimanapun juga harus kutemui apapun yang terjadi.” Begitu kataku dalam hati. Aku memantapkan hati untuk melangkah memasuki mall.

”Ayumi ada?” Tanyaku kepada seseorang yang sedang bekerja di sebuah counter besar. Dia mengernyitkan dahi.

”Ayumi? Siapa Ayumi? Tidak ada yang bernama Ayumi di sini” Tanyanya heran.
Aku menyebut sebuah nama yang tidak biasa. Bukan nama sebenarnya. Maka tidak aneh kalau dia bingung. Mendengar kata Ayumi, seseorang yang sedang menata barang display di dekatnya menoleh.

”Ayumi? Ya saya tahu” Kata pekerja yang menata barang display
”Tapi ngomong-ngomong, hanya orang-orang tertentu yang memanggil dia Ayumi. Dan hanya sedikit orang yang tahu kalau Ayumi adalah dia. Kamu menyebut nama Ayumi. Ada apa nih?”

”Jauh-jauh aku datang ke sini ingin ketemu dengannya.” Jawabku tegas

”Hari ini dia masuk malam. Kalau mau menunggu barang beberapa jam silakan.” Pandangnya penuh curiga kepadaku.

Aku terdiam sejenak. Kalau dia masuk malam berarti saat ini dia berada di rumah kontrakannya. Aku mengucapkan terima kasih dan langsung bergegas keluar dan menuju rumah kontrakannya. Lokasi kontrakannya tidak jauh dari tempat kerjanya, cukup dengan berjalan kaki beberapa saat sudah sampai di depan pintu rumahnya.

***

Bimbang aku di depan rumahnya. Jantung sudah berdetak dengan keras, seperti bertemu dengan sesuatu yang membahayakan. Tanganku gemetar. Mengetuk pintu atau tidak? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya membuatku merasa berdebar-debar seperti ini. Atau aku pergi saja dari sini daripada harus berantem. Ahh jauh-jauh aku ke sini, hingga di depan rumahnya kemudian berbalik arah pergi, pengecut sekali. Aku harus berani hadapi apapun yang terjadi. Apapun keputusannya.

Kuberanikan diri mengetuk pintu rumah. Aku maju selangkah dan pintu terbuka sebelum tanganku sempat menyentuhnya.

“Kaka …!” Wajahnya terlihat terkejut, ternganga. Dia dalam kondisi sudah rapi dan bersiap berangkat kerja. Matanya seakan tidak percaya bahwa aku sedang berdiri di depannya. Tetap dengan sorot mataku yang masih menginginkan sebuah penjelasan atas ucapanmu kemarin.

“Maafkan aku ka … “ Dia menghambur memelukku. Aku tidak sempat menghindar. Inginku segera melepaskan pelukannya namun lamat-lamat aku mendengar suara isak tangis di dadaku “Maafkan aku ka … maafkan aku” Begitu kata yang lirih terdengar, hanya olehku. Aku tidak berani melepaskan pelukanya di tubuhku. Harus menunggu beberapa saat agar dia bisa tenang.

Sontak Amira keluar dari dalam rumah kontrakannya

“Hei, kalian berdua. Kalau berantem jangan di jalan, masuk saja ke dalam. Malu dilihat orang.” Begitu perintah Amira kepada kami berdua.

Amira adalah teman satu kontrakan Ayumi dan bekerja di tempat yang sama. Kalau dia tahu bahwa kami berdua sedang ada masalah berarti Ayumi telah bercerita segalanya tentang diriku kepada Amira. Aku bingung dan menurut saja apa katanya. Begitu juga dengan Perempuan Desri Angin, dia melepaskan pelukannya dan beringsut masuk ke dalam.

Amira menyambut tangan Ayumi dan menggandeng kedua tangannya. Menuntunnya karena masih menangis sesenggukan.

”Kamu selesaikan masalahmu dulu. Biar tugasmu aku gantikan hari ini.” Kata amira kepada Ayumi. Ayumi hanya mengangguk saja. Aku mengikuti keduanya dari belakang.

Aku duduk terdiam di bangku depan. Perempuan desir angin duduk di depanku, berhadapan. Amira masuk ke dalam mempersiapkan diri untuk bekerja menggantikan perempuan yang sedang duduk di depanku ini.

Sejumput waktu kemudian Amira sudah siap dan bersiap meninggalkan rumah

“Kaka, tolong selesaikan masalah kalian ini. Aku harap ketika aku pulang nanti aku tidak mendengar lagi masalahmu dengan sahabatku ini. Kalau kau membuat sahabatku ini lebih bersedih, saya tidak akan memaafkanmu.”

Ups, begitu Amira memberikan sebuah pesan sebelum berangkat kerja. Dan sebuah ANCAMAN tersirat.

Tinggal aku dan Ayumi yang berada di rumah. Aku masih tetap diam.

“Kaka … maafkan aku. Mohon sekali lagi maafkan aku. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang berarti dalam kehidupanmu. Itu saja.”

Aku masih masih tetap diam tidak bergeming.

”Jangan marah lagi ya Ka, aku mohon Kaka jangan marah lagi seperti ini. Aku gak bisa kalau kaka terus terusan seperti ini”

”Tapi bukan begini caranya” Aku mulai bersuara
”Siapa pula Ray?”

”Kaka, tolong dengarkan aku dulu” Dia terdiam sesaat

”Selama ini aku merasa aku adalah seorang yang tidak berguna Ka. Tangan kecilku ini tidak dianggap apapun oleh orang di sekitarku. Bahkan orang tuaku sendiri tidak percaya kalau aku dengan tangan kecilku ini bisa membantu mereka. Aku merasa sangat tidak berguna saat itu. Aku merantau ke ujung pulau seperti ini hanya untuk membuktikan kepada orang tua, kepada tetangga, kepada teman-teman kalau tangan kecilku ini bisa berguna bagi semua.”

Sepintas aku melihat air mata mulai mengalir dari sudut matanya.

”Semua orang menganggap aku tidak berguna Ka. Makanya aku menghindar dari omongan orang seperti itu dan pergi ke tempat yang jauh seperti kota ini.”

”Kamu datang ke kota ini dengan sebuah luka. Luka yang ditinggalkan oleh dia tanpa alasan apapun. Ditambah dengan luka akibat keluargamu yang hancur dan meninggalkanmu seperti ini. Kamu datang ke kota ini seperti orang hilang Ka. Badanmu kurus kering tidak terawat. Kerja tidak jelas juntrungnya, sekolah tidak kunjung selesai.
Aku ingin menjadi seseorang yang berguna bagimu. Menjadi seseorang yang berarti bagimu Ka. Kalau kamu butuh cinta, ketulusan hati. Biarlah aku yang mengisi hatimu, menyertai kehidupanmu. Aku akan membasuh lukamu dengan cinta.”

Aku segera terdiam. Dia mengingatkanku dengan luka-lukaku yang pernah terjadi. Meskipun aku berkeyakinan ”lelaki itu tidak menangis tetapi hatinya berdarah”. Tetap saja aku butuh seseorang untuk membalut luka. Sangat sulit membalut luka ini sendiri.

”Tapi Ray itu siapa?” Tanyaku kemudian

”Ray. Ahh … Dia datang sebelum Kaka datang. Dengan sebuah wajah yang layu, tidak bersemangat dengan kehidupannya sendiri. Dia harus menghadapi vonis dokter bahwa ada kanker di otaknya. Setiap kali dia datang ke sini, Dia selalu mengeluhkan rasa sakit di kepalanya. Demi membahagiakan dia, aku berikan cinta untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya. Cinta yang kuberikan sanggup melupakan sakit di kepalanya barang sejenak di tengah jadwal minum obatnya setiap 4 jam sekali. Bukankah semangat untuk hidup itu lebih penting daripada meratapi sakit yang melanda.”

Ugh … aku merasa tertampar. Tercekat. Ray datang lebih dulu ke kehidupan Perempuan Desir Angin daripada aku. Tapi aku masih tidak rela kamu berbagi cinta dengannya.

”Tolong katakan ka, apakah aku salah tentang cinta dan ketulusan. Tentang sebuah semangat kehidupan karena cinta.
Kalau dengan cintaku, dia bisa melanjutkan hidupnya atas vonis kanker otak dari dokter.
Kalau dengan cintaku, kaka bisa melanjutkan hidup dan menyelesaikan sekolah.
Adakah salahku dengan cinta yang kuberikan? Aku ingin menjadi seseorang yang berarti. Selama ini aku dianggap bukan orang oleh mereka Ka. Kalau bagi mereka aku tidak berarti, aku ingin menjadi orang yang berarti di matamu. Aku ingin menjadi orang yang berarti di mata Ray.”

“Adakah salahku? Cintaku untuk kehidupan Kaka dan kehidupan Ray?”

Sebuah pertanyaan yang tidak mampu kujawab.

One Comment leave one →

Trackbacks

  1. Prahara « Lé Mandoré

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: