Skip to content

Produk ramah lingkungan (RoHS III)

1 September 2011

Artikel berikut akan membuat otak bekerja lebih keras dalam mencerna. Dibaca kalau punya waktu luang saja, gak usah khawatir, saya akan memberi waktu luang sekitar 1 minggu untuk membacanya. Jika ada yang belum mengikuti artikel sebelumnya. Kedua artikel di atas merupakan gerbang untuk membaca artikel berikut sebagai pemahaman.

Selamat berakhir pekan.

Peringatan tentang bahan-bahan berbahaya yang dapat mencemari lingkungan serta beracun bagi manusia menjadi perhatian serius bagi para pengusaha elektronik di dunia. Terlebih lagi perusahaan – perusahaan Eropa yang sebagian besar masyarakatnya terdidik tentang bahan berbahaya dan tidak. Pembatasan bahan-bahan berbahaya sudah dimulai dari makanan, kemudian merambah ke peralatan elektronik kemudian semoga dilanjutkan dengan peralatan – peralatan yang lain. Bahkan tidak mustahil suatu saat semua barang-barang yang diproduksi akan ramah lingkungan, tidak mengandung bahan berbahaya sedikitpun.
Dalam industri elektronik sudah ada peraturan WEEE yang kemudian diimplementasikan ke peraturan RoHS. Peraturan RoHS dalam pelaksanaannya merupakan persyaratan minimal agar produknya diterima oleh masyarakat terutama masyarakat Eropa. Sudah menjadi rahasia umum jika produk yang diterima oleh pasar Eropa maka produknya tidak perlu diragukan lagi baik secara kualitas maupun peraturan persyaratan yang berlaku. Masyarakat Asia juga memiliki kecenderungan melihat ke Eropa terkait produk yang memenangi pasar, secara otomatis masyarakat akan percaya dengan kualitas dan keamanan jika produk tersebut di Eropa sudah teruji.
Oleh sebab itu beberapa perusahaan menampilkan cara yang lebih elegan daripada RoHS. Seperti terlihat pada tabel postingan sebelumnya, sebenarnya adalah ringkasan dari peraturan yang telah mereka buat. Berikut beberapa contoh aplikasi peraturan Produk Ramah Lingkungan oleh beberapa perusahaan :

Green Partner : Sony, LGEDI
Eco Ideas : Panasonic Electronics
Eco Partner : Samsung Electronics
ESCM (Eco-Supply Chain Management) : LG Innotek
Green Procurement : JVC, toshiba, Matsushita
Green product
Lead free
Pb free

Di dalam pelaksanaan peraturan Produk Ramah Lingkungan yang dibuat oleh masing-masing perusahaan terdapat bahan-bahan yang dilarang, dibatasi, atau sekedar dikontrol (wajib dilaporkan) pengunaannya. Bahan-bahan tersebut terdiri dari 3 bagian sebagai berikut :

A. Substansi berbahaya yang diatur pemakaiannya oleh peraturan. Masing-masing perusahaan berhak menentukan sendiri jumlah / kadar substansi minimal yang diperbolehkan selama tidak melampaui peraturan RoHS yang disyaratkan. Berikut substansinya:
1.  J001 Asbestos (all types)
2.  J002 Benzens
3.  J003 CFC’c (Class 1)
4.  J004 Halons (Class 1)
5.  J005 Polychlorobipheniles (PCBs)
6.  J006 Polybromodiphenilether (PBDE) *2
7.  J007 Polybromobiphenils (PBB) *2
8.  J008 Polyclorotriphenils (PCT)
9.  J009 Pentachlorophenol (PCP)
10. J010 Dioxins
11. J011 Halogennated dibenzofuranes
12. J012 1.1.1-Trichloroethane
13. J013 Tetrachloride carbonate
14. J014 Dichloromethane
15. J015 Arsenic and compounds
16. J016 BEryllium and compounds
17. J017 Cadmium and compounds *1 *2 *3 *4
18. J018 Chromium (Hexavalent) and compounds *2 *3
19. J019 Mercury and compounds *1 *2 *3
20. J020 Nickle and compounds
21. J021 Leads and compounds *1 *2 *3 *4 *5
22. J053 Tributhyl Tin
23. J054 Triphenyl Tin
24. J055 1.2-dichloroethane
25. J056 1.1-dichloroethylene
26. J057 Cis-1.2-dichloroethylene
27. J058 Tetrachloroethylene
28. J059 1.1.2-Trichloroethylene
29. J060 Trichloroethylene
30. J061 Ethyleneoxide
31. J062 Chloromethilether
32. J063 Benzylene=trichloide
33. J064 Methxylene
34. J065 Polychlorinated naphthalene

B. Substansi yang akan diatur pemakaiannya oleh peraturan baru yang akan datang. Setelah beberapa waktu berjalan, ada material yang sebelumnya tidak masuk dalam peraturan namun ternyata bisa mencemari lingkungan.
1. J022 Formaldehyde
2. J023 Vinyl choride (monomer)
3. J024 PVC dan turunan PVC

C, Substansi yang tidak dibatasi penggunaannya tetapi berbahaya bagi lingkungan. Tingkat konsentrasi penggunaannya pada produk harus diidentifikasi. Berikut substansinya:
1.  J025 Halogenated aromatic hydrocarbons
2.  J026 Halogenated aliphatic hydrocarbons
3.  J027 Antimony and compounds
4.  J028 Cobalt and compounds
5.  J029 Selenium and compounds
6.  J030 Tellurium and compounds
7.  J031 Thallium and compounds
8.  J032 Metal carbonyls
9.  J033 Organic Tin compounds (exept tributhil and triphenyl tin)
10. J034 Cyanide
11. J035 Phenol (monomer)
12. J036 Toluene
13. J037 Xylene
14. J038 Polycylic aromatic Hydrocarbons
15. J039 (N)-methilacetamide (NMA)
16. J040 (N,N)-dimethylformamide (DMF)
17. J041 (N)-methylfolmamide (NMF)
18. J042 Diethylamine
19. J043 Dimethylamine
20. J044 Nitrosamide
21. J045 Nitrosamine
22. J046 Ethylene glycol ethers and acetates
23. J047 Phthalates (all)
24. J048 Hydrazine
25. J049 Picric acid
26. J050 Acrylonitrile
27. J051 (N,N)-dimethylacetamide (DMA)
28. J052 Epichlorohydrine
29. J066 Tetrabromobisphenol A bis dipromoprophyl ether

keterangan:
J*** menunjukkan kode dari material substansi dari laporan penggunaan Environmentally Hazardous Subtances in the Products bagian ke-2 (ver.2)
*1. Pemenuhan terhadap peraturan batere dan aplikasi dari peraturan RoHS
*2. Pemenuhan terhadap peraturan RoHS
*3. Pemenuhan terhadap peraturan US dan Eropa mengenai pengemasan (packing)
*4. Pemenuhan terhadap peraturan Eropa tentang plastik dan senyawanya
*5. Pemenuhan terhadap peraturan “California Proposition 65

Pertanyaannya, dengan jumlah substansi yang begitu banyak, bagaimana pelaksanaannya ?

Kontrol penggunaan bahan berbahaya menurut RoHS biasanya lebih ditekankan untuk dijalankan karena material yang dibatasi RoHS lebih sering dan mudah digunakan dalam pembuatan material. Berikut cara kontrolnya.

Setiap perusahaan dan industri bahan kimia selalu mengeluarkan MSDS (Material Safety Data Sheet) dari produk yang diproduksinya. Dari MSDS inilah raw material elektronik bisa diketahui kandungan material yang dibeli dari produsen.

Kita lihat contoh gambar di samping (gambar PCB)
Ada berapa raw material yang dipakai untuk membuat PCB? yup benar, ada 4 macam.
1. FR-4 : bahan dasar PCB
2. copper : tembaga untuk membuat jalur / pattern pada PCB
3. SR (solder resist) : warna hijau, menghindarkan copper terkena solder pada tempat yang tidak dinginkan
4. Silk PCB : warna putih sebagai penanda pada bagian tertentu PCB.
Sebuah perusahaan PCB -sebut saja PT. CB- di dalam laporan MSDSnya tercantum raw material yang dipakai dalam membuat PCB adalah FR4, Copper, SR dan silk. Jika PT. CB ini membeli FR-4 di PT. Sehat Bergizi, copper di PT. Bugar Jaya, SR di PT. Indah Mempesona dan Silk di PT. Lurus Lancar, maka PT. CB berhak meminta MSDS dari masing-masing supliernya. Hal ini dilakukan agar PT. CB mengetahui apakah FR4 di PT. Sehat Bergizi ada campurannya atau murni FR4 saja. Jika pada MSDS PT. Sehat Bergizi tercantum campuran yang lain maka bisa ditelusuri apakah bahan campuran tersebut termasuk bahan yang dibatasi menurut daftar di atas. Ada atau tidaknya campuran material yang dibatasi menurut RoHS, PT. CB berhak meminta hasil pengukuran material yang dibatasi tersebut (Cd, Pb, Hg, Cr+6). Laporan hasil pengukuran yang diminta adalah pengukuran yang dilakukan oleh laboratorium independen yang tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan pemilik raw material.
Setelah semua bahan didapat, MSDS dikumpulkan, PT. CB boleh memulai membuat PCB pada proses mereka kemudian membuat MSDS menurut versi Perusahaan PT. PCB sesuai dengan bahan yang digunakan.

Saya sebagai pembeli PCB pada PT. CB minimal akan menerima 5 dokumen, masing-masing adalah MSDS dari PR. CB, hasil pengukuran material RoHS FR4, copper, SR, dan silk. Sukarela atau terpaksa PT. CB harus memberikan 5 dokumen tersebut karena saya sebagai produsen Tempe diminta oleh customer memberikan seluruh dokumen pengukuran material RoHS pada material yang saya gunakan. Bisa dibayangkan, dalam material saya terdapat PCB, resistor, capasitor, induktor, coil, kristal, IC, transistor, dioda, solder, dan lain-lain. Untuk PCB saja saya membeli ke 3 suplier karena PCB yang saya butuhkan tidak bisa disediakan oleh PT. CB saja. Bisa dibayangkan, dalam 1 model tempe saja saya harus memberikan dokumen ratusan lembar, ya Ratusan!
Tapi untung saja perkembangan teknologi sangat membantu sehingga dokumen bisa diringkas dalam bentuk pdf.
Setelah itu? Setelah itu tempenya masih akan diproses lagi. Bisa digoreng, disayur atau dibacem *halah*. Produk yang siap pakai, sebelum dipasarkan di Eropa harus didaftarkan dulu kepada badan regulasi elektronik yang ada di Eropa. Salah satu syaratnya adalah menunjukkan hasil pengujian material RoHS, yang pasti jumlahnya mencapai ratusan lembar bahkan Ribuan !
Untuk mendapatkan sertifikat hasil pengujian, biasanya dikeluarkan oleh badan penguji, badan penguji material RoHS adalah laboratorium eksternal yang sudah diakui baik secara nasional maupun internasional. Biasanya saya menerima dokumen dari hasil pengujian PT. Sucofindo (Nasional) dan PT. SGS. Ada juga laboratorium penguji yang lain namun saya lupa, maaf.
Hal yang tidak boleh dilupakan adalah sertifikat tersebut mempunyai masa berlaku. Saya menemukan pada sertifikat-sertifikat tersebut mempunyai jangka waktu rata-rata 2 tahun terhitung sejak tanggal sertifikat dikeluarkan, bahkan ada yang hanya memberikan masa berlaku 1 tahun untuk sertifikat hasil pengujian itu. Bagaimana kalau masa berlakunya habis? Ya sama dengan KTP atau SIM, material harus diujikan lagi untuk mendapatkan sertifikat yang update.
Pabrik tempe tempat saya nguli selalu melakukan review setiap 3 bulan terhadap semua sertifikat hasil pengujian material yang masuk. Jika ada yang kedaluarsa, maka saya langsung meminta sertifikat updatenya.

Untuk mengetahui tingkat pamakaian substansi berbahaya menurut RoHS pada sebuah raw material maka dilakukan uji kandungan. Uji kandungan tersebut melalui beberapa cara sebagai berikut :
1. Cd, Pb, Hg dilakukan dengan menggunakan uji
a. ICP (Inductively Coupled Plasma) Atomic Emission Spectrometry
b. XRF (X-Ray Fluorescence Spectrometry)
c. Gas Chromatography/Mass Spectrometer (GC/MS)
d. Atomic Absorption Spectrometer (AAS)
2. Cr+6 dilakukan dengan menggunakan uji UV-VIS (Ultra Violet Visible Spectrometry)
3. PBB dan PBDE dilakukan dengan menggunakan uji laboratorium.

PBB dan PBDE hanya digunakan pada plastik dan turunannya sehingga peralatan elektronik jarang sekali (atau hampir tidak) menggunakan campuran tersebut. Biasanya laporan yang tertera pada hasil uji adalah Cd, Pb, Hg dan Cr+6 saja.

Sebuah pengalaman pernah saya membeli PCB, waktu itu belum diberlakukan peraturan RoHS ini jadi tidak masalah. Setelah barang sampai di pabrik, ternyata customer menghentikan ordernya dengan alasan yang tidak jelas. Itu merupakan sebuah kerugian karena saya sudah membeli material dengan jumlah banyak. Namun barang masih bisa disimpan untuk produksi selanjutnya. Setelah disimpan selama 4 tahun ternyata ada juga yang order dengan menggunakan PCB tersebut, kebetulan yang sangat menyenangkan, 4 tahun tanpa order tiba-tiba ada yang membutuhkan.
Seperti biasanya Ketika barang mau dibuat, customer meminta dokumen MSDS dan ROHS, nah di sini yang jadi masalah. Ketika saya konfirmasi ke pembuat PCB ternyata mereka tidak lagi memproduksi PCB tersebut jadi kalau mau memeriksakan raw material akan mengeluarkan biaya yang besar, dan produsen tersebut tidak mau karena sewaktu memproduksi PCB mereka tidak terkena regulasi RoHS yang muncul sesudah barang diproduksi.
Sebagai produsen tempe yang baik saya tetap melayani pelanggan bagaimanapun keadaannya. Daripada mengeluarkan biaya yang besar untuk mendesain ulang pembuatan PCB lebih baik mengujikan raw materialnya saja. Harganya pun fantastis, cukup dengan 3x gaji saya sebulan untuk 1 raw material. Padahal jika dilihat pada gambar PCB tersebut terdiri dari 4 raw material: FR-4, chopper, solder resist, dan silk patern. Bisa dihitung kan berapa totalnya.

: bagaimana kalau ada yang bohong, memanipulasi,atau memalsu sertifikat pengujian ?

Indonesia memang kaya dan kreatif, sayangnya kreatif juga dalam hal memalsu dan memanipulasi (no offense). Mungkin beberapa pembaca mengutarakan pertanyaan di atas, ya memang sulit untuk kasus-kasus tertentu. Pernah sekali saya memergoki dokumen yang dikirim bukan dokumen yang sebenarnya alias tempelan alias palsu. Terus terang saya tidak memberikan toleransi kepada perusahaan yang berbuat curang seperti itu, dalam arti cukup sampai di sini kerjasama pabrik saya dengan suplier. Hmm cukup kejam ya, saya pikir bersikap profesional lebih menyelamatkan daripada menghindar dari cap “kejam”.
Dokumen yang dikirimkan mempunyai nomer tertentu yang mampu-telusur (tracebility) ke pihak penguji. Sebagai contoh SGS (saya menyebut merek lagi, maaf ya) mempunyai nomer identifikasi dokumen yang bisa dilacak secara online, saya cukup diuntungkan memang, apalagi mereka menyediakan nomer hotline di Singapura untuk menerima segala pertanyaan tentang keabsahan dokumen yang dikeluarkan oleh SGS. banyak cara untuk melakukan melakukan validasi dokumen yang diterima. Banyak dan membutuhkan waktu memang iya, capek …iya, tapi pekerjaan kan bukan saya saja yang mengurus, masih banyak teman-teman yang setia membantu.
Seperti paparan di atas, pabrik saya mempunyai mesin XRF sendiri untuk melakukan pengukuran sebagai kontrol terhadap produk suplier yang masuk ke pabrik. Jika hasil pengujian XRF kami menyatakan pebedaan yang sangat signifikan terhadap dokumen yang diberikan maka perlu ditelusuri asal dokumen tersebut. Jika memang terbukti dokumennya palsu, maka sikap profesional lebih menyelamatkan, kerjasama sampai di sini saja. Seandainya produk saya terkirim ke Eropa dengan kondisi kandungan bahan berbahaya melebihi kadar yang ditentukan maka pabrik saya langsung kena penalty yang sangat besar. Regulasi Eropa tidak main-main dengan peraturan yang telah dibuatnya. Sebelum kejadian saya didenda dengan jumlah besar, lebih baik bersikap profesional sejak dini.
Ada sebuah hukuman yang tidak tertulis dalam hal dokumen dan suplier ini. Jika ada satu suplier melakukan pemalsuan terhadap dokumen maka berita tersebut akan segera menyebar ke perusahaan lain di mana suplier tersebut mengirimkan barangnya. Jadi jika salah satu perusahaan tahu belangnya secara otomatis akan menjadikan keraguan perusahaan lain untuk mengambil bahan baku pada suplier tersebut. Jadi intinya, sekali dia berbuat curang, maka sebagian besar perusahaan yang mengambil bahan baku akan beralihke tempatlain. Bagaimana caranya berita tersebut menyebar secara tepat ? saya kan melakukan audit secara berkala, maka tidak ada salahnya saya nanya “kepada siapa saja anda menjual bahan ini ?” Tujuan awal memang untuk menjaga prioritas ketersediaan bahan baku ke pabrik saya, tetapi di balik itu jika ada kasus dokumen seperti ini, berita akan segera tersebar ke sasaran yang tepat. Jadi hati-hatilah, jangan berbuat curang.
Pengorganisasian dokumen dan persyaratan sertifikat bukan satu-satuya cara untuk menjamin produk ramah lingkungan. Sikap kitalah yang harus diperbarui dalam memandang suatu produk. Oleh karena itu mari kita semua sebagai konsumen bertindak lebih cerdas dalam memilih produk yang akan dibeli. Paling tidak, perhatikan kemasan dan pastikan bahwa barang tersebut sudah mempunyai tanda atau cap yang menerangkan bahwa produk tersebut memang benar-benar ramah lingkungan. Semua barang yang diproduksi oleh pabrik pada akhirnya ada di tangan kita, maka sebenarnya keputusan pembuatan produk itu ada di tangan konsumen. Kalau bukan kita yang menjaga lingkungan, siapa lagi.

akhirnya selesai juga trilogi RoHS ini, jangan kapok ya mampir ke sini.

One Comment leave one →
  1. ary amhir permalink
    29 Juni 2014 05:23

    Reblogged this on Othervisions and commented:
    Selagi di ‘Rumah Intaran’ saya ingin membahas tentang ROHS, terkait dengan barang elektronik yang kita gunakan sehari-hari seperti laptop, ipad, HP, dan lainnya yang ‘ternyata’ mengandung bahan berbahaya yang tidak kita sadari. Kebetulan dulu di Malaysia saya bekerja di pabrik PCB yang memproduksi komponen dan part pada komputer, laptop, juga perangkat elektronik untuk medis dan pesawat luar angkasa, dan kami, para pekerja, diwajibkan lulus sertifikasi ROHS setiap tahun. Apa ROHS dan mengapa begitu penting, serta mengapa baru Orang Eropa yang peduli? Postingan lama kawan di bawah ini mungkin akan berguna sebagai pengantar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: